• Hidup orang percaya tidak pernah lepas dari pilihan. Pilihan-pilihan itu sering kali tidak terlihat besar:

• Namun, Alkitab mengajarkan bahwa iman tidak runtuh karena satu dosa besar, melainkan sering kali karena serangkaian kompromi kecil.

Tony Evans berkata (Pengkhotah di Amerika)
“Kompromi adalah kanker gereja, dan kita harus menyingkirkannya dari tubuh Kristus. Meskipun orang Kristen dapat berkompromi dalam hal preferensi, mereka tidak boleh berkompromi dalam hal prinsip. Kita tidak bisa bersikap berbeda pada hari Minggu dan Senin”

Daniel 1:8-10

(8) Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (9) Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang  dari pemimpin pegawai istana itu; (10) tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: “Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.”

Kitab Daniel dimulai dengan perkenalan 4 pemuda, yaitu Daniel, Hananya, Misael, Azarya

Mereka: masih muda, cerdas, berpotensi besar.

Apa yang bisa kita pelajari dari Daniel, Hananya, Misael, Azarya?

1. Jangan Kopromi dengan ‘identitas kita’

Hal pertama yang dilakukan Babel bukan menyiksa, tetapi:

Mengganti nama mereka(Daniel, Hananya, Misael, Azarya), Mengapa??

Mengubah identitas -mengubah hidup, jati diri, perkataan, dan perbuatan.

“Our identity is not achieved, it is received.”  – Timothy Keller

Efesus 1:4–5  “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya… Ia telah menentukan kita dari semula untuk diangkat menjadi anak-Nya.”

Daniel tidak mau ‘makan’ karena dia ‘tidak mau menajiskan” dirinya.

Bahasa Ibrani untuk “menajiskan” adalah:  ל(gāʾal) atau לאַל ג (gā’al)

menajiskandiri”. Kata menunjuk pada sesuatu yang menjadi kotor secara moral dan Rohani. Makanan raja terlihat mewah, sah, bahkan menguntungkan. Tapi bagi Daniel, itu menyentuh wilayah kesetiaan. Di situlah batasnya.

• Tidak sesuai hukum Taurat (Imamat 11), dipersembahkan kepada berhala Babel. Dan Daniel menolak asimilasi rohani, bukan sekadar menu makanan.

Masalahnya bukan sekadar makanan, tetapi: (1) Identitas, (2) Ketundukan kepada Allah.

“Komitmen sejati diuji ketika kompromi terlihat menguntungkan.”

“When you know who you are in Christ, you won’t need the world’s approval to validate you.”

2. Harus memiliki ketetapan hati (Ayat 8a)

Secara konteks pelayanan, Daniel adalah gambaran pelayan   Tuhan yang hidup di tengah tekanan sistem dan budaya yang tidak sejalan dengan nilai Kerajaan Allah. Pelayanan kita hari ini pun tidak terjadi di ruang yang steril. Pelayanan selalu berada di tengah.

• Daniel berketetapan tidak menajiskan dirinya dengan makanan raja.

וֹבּלִ־לעל  לאַיֵּנִד  םשֶׂ (wayyāśemDāniyyēlʿal-libô)

• “Daniel meletakkan (menetapkan) itu di atas hatinya.”

• Dalam bahasa Ibrani, Kata Kerja “berketetapan”םשֶׂ  (śem) berasal dari kata (śûm‘al-lēḇ). Artinya: menaruh sesuatu dengan sadar di dalam hati. Ini bukan reaksi spontan. Bukan emosi sesaat. Ini keputusan yang dipikirkan, ditanam, dan dijaga ditetapkan dengan sadar, bukan emosi sesaat.

Komitmen rohani selalu dimulai dari keputusan batin, bukan dari tekanan luar.

• Tidak menunggu larangan, tidak menunggu ancaman, tidak menunggu perintah Tuhan.

Kata kerja םוּשׂ(śûm) berarti:

(1) Menetapkan dengan sadar, (2) Memutuskan secara permanen, (3) Tindakan kehendak, bukan emosi sesaat.

‘al-lēḇ : “di atas hatinya” menunjukkan pusat: Kehendak pikiran komitmen terdalam.

Komitmen rohani selalu dimulai dari keputusan batin, bukan dari tekanan luar. Oleh karena itu kita perlu menentukan sejak awal apa saja hal-hal yang non-negotiable,  keputusan yang tidak akan kita kompromikan apa pun tekanan atau harganya.

“Kalau kita tidak berdiri untuk sesuatu, kita akan jatuh untuk segala sesuatu.” — Peter Marshall

3. Kompromi Sering Tampak Menguntungkan, Ujilah! (ayat 8)

* Daniel sadar bahwa tidak semua yang   menguntungkan boleh diterima dalam pelayanan

* Pelayanan yang luar biasa tidak lahir dari kompromi (menerima semua hal baik) tetapi dari kesetiaan.

4. Komitmen yang Benar Menghasilkan Sikap yang Benar (ayat 8b–9).

• Firman Tuhan mencatat bahwa Allah mengaruniakan kasih dan sayang kepada Daniel.

• Daniel tidak melayani dengan arogan rohani. Ia tidak memaksakan kehendaknya. Ia berbicara dengan hormat dan penuh hikmat.

5. Komitmen dalam Pelayanan Selalu Mengandung Risiko (ayat 10).

• Kepala pegawai itu takut. Artinya, pilihan Daniel tidak aman secara manusia.

• Melayani Tuhan dengan komitmen sering kali tidak nyaman, tidak selalu aman, dan tidak selalu disetujui semua orang. Namun di sanalah kita belajar bahwa Allah tetap memegang kendali atas pelayanan yang dilakukan dengan setia.

Jadi, cara hidup tanpa kompromi adalah :

1. Jaga identitas, bukan kenyamanan.

2. Tetapkan komitmen sebelum pencobaan datang.

3. Bersikap tegas dengan cara yang bijaksana dan penuh kasih.

4. Percaya bahwa Allah bekerja melalui ketaatan.

Author admin