Kebangunan rohani (revival) bukan sekadar emosi sesaat atau banyaknya mukjizat, melainkan hatinya yang sungguh fokus kepada Allah. Karena itu kebangunan rohani sejati menuntut hati yang utuh, bukan hati yang bercabang atau mendua antara Tuhan dan dunia.
Yakobus 1:8 (TB) “Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.“
Mendua hati adalah penghalang utama kebangunan rohani. Karena orang yang mendua hati adalah mereka yang imannya tidak tetap, sering ragu, dan berusaha mengikuti jalan Tuhan sekaligus keinginan duniawi atau berpegang pada berhala modern (uang, harga diri, hobi yang menyimpang).
Mendua hati adalah sikap bimbang yang diumpamakan seperti gelombang laut yang diombang-ambingkan angin. Orang tersebut tidak akan mendapatkan apa-apa dari Tuhan karena keraguannya, hidupnya menjadi tidak stabil, mudah goyah, dan tidak memiliki ketenangan sejati, akibatnya kehilangan janji Tuhan.
Yakobus 1:6b-7 “..sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.“
Mendua hati sering muncul saat masalah datang, di mana manusia meragukan pertolongan Tuhan dan mencoba mencari jalan keluar sendiri (mengandalkan manusia/dunia). Hati yang terbagi membuat seseorang tidak setia dalam mengikut Yesus, menjadikan komitmen rohani tidak sungguh-sungguh.
Bagaimana caranya untuk tidak mendua hati ?
1. Miliki komitmen tanpa kompromi.
Yakobus 4:4 “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.“
Komitmen pada kebenaran menuntut kita memihak sepenuhnya kepada Tuhan, tanpa keraguan, tidak bisa netral, apalagi mendua hati. Jangan membandingkan Tuhan dengan hal duniawi, atau menyatukan prinsip Firtu dengan cara” duniawi.
Kebangunan rohani adalah “anggur baru” yang membutuhkan “kantong baru” (hati yang murni), artinya fokuslah pada satu tujuan, yaitu hidup bagi Tuhan, bukan terbagi dengan keinginan daging.
2. Miliki langkah menuju hati yang utuh.
Yakobus 4:8 “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!“
Menyucikan hati dengan mendekat kepada Tuhan dan membuang segala rupa dosa atau berhala, dan tegas dalam pilihan dengan memutuskan untuk tidak lagi “mendua hati”, melainkan taat sepenuhnya pada firman Tuhan.
Sebab di hadapan-Nya, tidak ada yang lebih penting ketimbang ketaatan, dan orang yang tidak taat terungkap dari hati yang suka memberontak. Hanya taat pada bagian yang mungkin enak atau menyenangkan baginya, namun menolak atau enggan menaati bagian yang terasa berat serta tidak nyaman.
Ketaatan memberi berkat, ketidaktaatan membawa konsekuensi. Hiduplah dengan mengandalkan Kuasa Roh Kudus, bukan karena kuat dan gagah kita, melainkan Roh Kudus yang memampukan kita tetap setia.
3. Mencari hikmat Allah senantiasa.
Yakobus 1:5 “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit —, maka hal itu akan diberikan kepadanya.“
Berdoa mohon tuntunan Tuhan agar keputusan hidup sejalan dengan kehendak-Nya, dengan kita menjadi pelaku Firman.
Bukti bahwa kita mengasihi Tuhan itu terwujud ketika kita mulai menjadi pelaku Firman, karena mendengar tanpa melakukan Firman itu ibarat hanya menjadi penonton di stadion olahraga, namun tidak menjalani pertandingan. Konsisten melakukan Firman Tuhan, bukan hanya mendengar agar hikmat Allah nyata pada kita.
KESIMPULAN :
Kebangunan rohani dimulai ketika kita berhenti mendua hati, ketika kita memutuskan untuk memberikan hati seutuhnya kepada Tuhan, api Roh Kudus akan menyala, dan kebangunan sejati akan terjadi.
Jangan biarkan keraguan dan mendua hati menghalangi berkat Tuhan dalam hidup kita, dengan cara :
1. Miliki Komitmen tanpa kompromi.
2. Miliki Langkah menuju Hati yang Utuh.
3. Mencari Hikmat Allah senantiasa.