Dinamika atau seluk beluk pelayanan kita, dalam kita mengikut Tuhan dan melayani Tuhan itu seringkali tanpa kita sadari, kita terjebak dalam pemikiran yang mengukur kondisi rohani dan keberhasilan pelayanan kita itu seolah-olah ditentukan dengan bertambahnya kekayaan, angka jemaat yang makin meningkat, fasilitas gedung yang makin mewah dan hal-hal semacam itu lainnya daripada Tuhan sang pemilik pelayanan. Pemikiran seperti itu adalah salah satu berhala di masa kini. Tentu hal seperti itu tidak berkenan kepada Tuhan. Kita harus lawan berhala seperti itu.
Daniel 3:24-30 (TB)
(24) Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!”
(25) Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!”
(26) Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
(27) Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka.
(28) Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.
(29) Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.”
(30) Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.
Ayat yang kita baca itu menekankan kesetiaan yang mutlak untuk hidup kita hanya menyembah kepada Allah di tengah tekanan dan godaan daya tarik dunia ini, di mana Tuhan hadir melindungi kita di dalam “api” penderitaan kita selama kita hidup ditengah arus dunia yang makin banyak berlawanan dengan perintah Allah.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diikat dan dilemparkan ke dalam dapur api, namun api hanya membakar tali pengikat mereka. Alkitab menyatakan bahwa meskipun mereka dilemparkan ke dapur api yang dipanaskan tujuh kali lebih panas, ketiga pemuda itu tidak terbakar. Raja Nebukadnezar terkejut melihat empat orang berjalan di dalam api, di mana yang keempat menyerupai “Anak Allah” (atau malaikat), menunjukkan Allah tidak melepaskan mereka dari penderitaan, melainkan menemani mereka di dalamnya. Api itu melindungi mereka dari penyembahan berhala yang ada diluar dapur api. Mereka membuktikan bahwa iman yang sejati siap menghadapi risiko kematian demi tidak menyembah berhala.
Kesetiaan mereka menyebabkan raja Nebukadnezar mengakui Allah ke 3 orang itu sebagai satu-satunya Allah yang menyelamatkan dan raja tersebut mengeluarkan dekrit untuk menghormati Allah ke 3 orang itu, serta raja memberikan kedudukan tinggi kepada ketiga orang itu.
Demikian juga hidup kita saat ini perlu untuk terus fokus setia hanya untuk menyembah dan memuliakan Tuhan saja, jangan ada berhala yang menggantikan Tuhan di hidup kita.
Namun, perlu kita sadari bahwa ada pergeseran bentuk penyembahan berhala dari patung fisik di masa lampau menjadi berhala hati atau berhala modern di jaman ini. Berhala masa kini didefinisikan sebagai apa pun yang mengambil alih posisi Tuhan dalam hidup seseorang, termasuk dalam konteks pelayanan di gereja.
Poin-poin penting mengenai berhala di masa kini :
1. Berhala di Hati & Pikiran.
Berhala tidak lagi berupa patung, tetapi hal-hal yang difokuskan hati dan pikiran manusia yang melebihi Tuhan. Dimana kita lebih mengutamakan kekayaan atau kenyamanan materi hingga mengabaikan Tuhan atau pelayanan. Selain itu juga kenyamanan hati membuat kita malas untuk melayani apalagi untuk menderita dalam pelayanan alias keluar dari kenyamanan hati. Ini berhala hati yang harus kita lawan.
2. Fokus pada Hasil, Bukan pada Tuhan.
Pelayanan menjadi berhala ketika fokusnya bukan lagi memuliakan Tuhan, melainkan pada keberhasilan, reputasi, atau angka. Maksudnya adalah menjadikan pelayanan (jabatan, tugas, popularitas) sebagai sumber identitas dan harga diri, bukan lagi sebagai sarana untuk fokus menyembah Tuhan. Mari kita cek fokus pelayanan kita dari sekarang.
3. Hal Baik yang dijadikan sebagai Tuhan.
Bisa saja hal-hal baik seperti gereja lokal yang makin keren, karir, uang, atau reputasi diri, itu bisa menjadi berhala jika ditinggikan kita melebihi Tuhan. Dimana itu kita sedang mengejar pengakuan manusia daripada perkenanan Tuhan, dengan keinginan untuk dipuji, dilihat sukses, atau kecanduan media sosial yang makin keren dan terkenal. Selain itu juga kelebihan Percaya Diri, juga bisa menjadi tuhan kita yang membuat kita lebih mengandalkan kemampuan diri sendiri daripada kuasa Tuhan dalam melayani.
Bahaya Berhala dalam Pelayanan :
1. Mendatangkan Murka Allah.
Penyembahan berhala masa kini itu tetap membawa konsekuensi serius, seperti yang tertulis dalam Roma 1:24 mengenai Allah yang “menyerahkan” manusia pada keinginan mereka sendiri. Ini adalah murka Allah yang membuat manusia tidak punya keinginan lagi untuk mengikuti keinginan Tuhan.
2. Kehilangan Fokus Iman kita.
Berhala di hidup kita itu membuat kita memuja hasil pelayanan (angka jemaat, gedung, kekayaan) daripada Tuhan sang pemilik pelayanan. Akibatnya fokus iman kita jadi berantakan, sehingga lama kelamaan kita bisa kehilangan fokus iman kita kepada Tuhan Yesus.
3. Kerusakan Kerohanian kita.
Berhala di hidup kita juga bisa merusak kemurnian iman kita karena itu bisa mengalihkan penyembahan yang seharusnya hanya untuk Allah. Dimana seringkali kita mencuri kemuliaan Tuhan. Ini yang membuat rusak kerohanian kita.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
1. Deteksi Berhala di Hati & Pikiran.
Kita perlu meneliti hati dan pikiran kita dengan mengenali apa yang seringkali lebih memuaskan kita daripada Tuhan.
2. Mengutamakan Tuhan.
Kita harus mengembalikan posisi Tuhan sebagai yang terutama, bukan sekadar pelengkap dalam pelayanan atau kehidupan sehari-hari.
3. Menjadikan Firman Standar Hidup.
Kita harus menilai pelayanan kita berdasarkan Firman Allah, bukan berdasarkan kesuksesan di mata dunia atau berdasarkan popularitas.
KESIMPULAN :
Dalam Dinamika Pelayanan kita mengikut Tuhan itu seringkali ada banyak berhala yang bisa muncul di hidup kita. Ini tentu tidak berkenan kepada Tuhan, yaitu :
1. Berhala di Hati & Pikiran.
2. Fokus pada Hasil, Bukan pada Tuhan.
3. Hal Baik yang dijadikan sebagai Tuhan.
Oleh karena itu mari kita semua untuk melayani dengan motivasi yang murni, bukan untuk membesarkan diri sendiri melainkan untuk memuliakan Tuhan, dengan cara :
1. Deteksi Berhala di Hati & Pikiran.
2. Mengutamakan Tuhan.
3. Menjadikan Firman Standar Hidup.