Dalam dinamika pelayanan seringkali kita jumpai adanya berbagai politik kepentingan yang bahkan tidak jarang harus menempuh dengan menghalalkan sedikit ketidakbenaran yang dilakukan diantara para hamba Tuhan dan jemaat. Tentu saja dengan berbagai alasan yang masuk akal tetapi sesungguhnya itu kita tahu bahwa itu tidak sesuai dengan Firman Tuhan, akan tetapi bagi kita itu sudah menjadi hal yang lumrah. Inilah yang seringkali membuat kita terjebak bersandiwara didalam kehidupan dan pelayanan kita.
Matius 5:37 (TB) “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
Kalau kita baca di ayat sebelumnya yaitu Matius 5:33-36, Yesus sedang membahas tentang sumpah. Pada zaman itu, orang sering bersumpah demi langit, demi bumi, atau demi kepala mereka untuk meyakinkan orang lain bahwa mereka berkata benar. Tuhan Yesus melarang hal ini.
Mengapa? Karena sumpah sering kali digunakan untuk menutupi ketidakjujuran sehari-hari. Akibatnya orang merasa boleh berbohong selama tidak bersumpah. Ini praktek sandiwara.
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa anak-anak Tuhan itu tidak perlu bersumpah untuk membuat perkataannya dipercaya. Cukup katakan ya atau tidak. Jika Anda bilang “ya”, lakukan. Jika “tidak”, jangan Anda lakukan. Tidak ada jalan tengah, tidak ada keraguan, dan tidak ada niat terselubung. Ini yang Tuhan ajarkan kepada kita. Janganlah kita bersandiwara. Saya mengutip sepenggal lirik lagu yang mengatakan “Mengapa kita bersandiwara”. Itu yang menjadi warning/peringatan bagi kita.
Ketahuilah bahwa Kehidupan kekristenan dan pelayanan kita itu bertujuan untuk membangun iman kita dan iman jemaat Tuhan, bukan sebagai panggung sandiwara untuk mencari popularitas, untuk mencari hiburan, atau untuk hidup dalam kepura-puraan manusia.
Hidup kekristenan yang benar itu hanya berpusat pada Kristus dan kebenaran Alkitab, serta bertujuan untuk mentransformasi karakter kita dan jemaat, bukan sekadar memukau para hadirin dan pendengar.
Sekarang mari kita lihat Poin-poin penting mengenai Pelayanan itu Bukan Panggung Sandiwara, yaitu :
1. Pelayanan itu Fokus pada Mezbah Tuhan, Bukan pada Panggung.
Pelayanan itu kudus yang membangun mezbah (penyembahan kepada Tuhan), bukan panggung sandiwara yang menonjolkan diri sendiri. Pelayanan sejati berfokus pada pekerjaan Roh Kudus, sementara bersandiwara berfokus pada penampilan lakon yang berpura-pura.
2. Kebenaran Bukan Kepura-puraan.
Pelayanan kita itu harus berpusat pada Injil dan ketegasan firman Tuhan. Pelayanan yang bersandiwara adalah bentuk ketidakjujuran yang dikecam oleh Allah. Para pelayan Tuhan itu dipanggil untuk hidup apa adanya dan takut akan Allah, bukan untuk berperan layaknya aktor.
3. Tujuan Pelayanan itu Transformasi, Bukan Hiburan.
Tujuan pelayanan yang benar adalah mempertumbuhkan iman, membawa pertobatan, dan mengubahkan hidup kita. Jika pelayanan kita hanya menjadi sandiwara yang menghibur, maka kerohanian kita tidak akan bertumbuh.
4. Menjadi Duta Kristus, Bukan sebagai Aktor.
Para pelayan atau hamba Tuhan itu adalah dutanya/utusannya Tuhan. Seorang duta melakukan pelayanan dengan setia, bukan berakting atau mengubah pesan dari Tuhan demi kepuasan penonton atau pendengar.
KESIMPULAN :
Dalam dinamika pelayanan itu perlu sekali untuk menghindari berSandiwara dalam Kehidupan dan pelayanan. Tuhan Yesus meminta kita umat-Nya untuk berkata ya atau tidak, tidak boleh ada keraguan dan kepura-puraan rohani didalam kekristenan dan pelayanan kita. Oleh karena itu lakukan pelayanan dengan :
1. Fokus pada Mezbah Tuhan, Bukan pada Panggung.
2. Kebenaran Bukan Kepura-puraan.
3. Tujuan untuk Transformasi, Bukan Hiburan.
4. Menjadi Duta Kristus, Bukan sebagai Aktor.