Dimensi Pelayanan itu juga berkaitan mengenai pembaharuan Paradigma. Ini yang kita sebut Paradigma Rohani. Paradigma adalah sudut pandang seseorang terhadap sesuatu. Paradigma rohani sangatlah penting, karena akan memengaruhi perkataan dan perbuatan seseorang. Paradigma yang benar akan mempengaruhi sikap hidup yang benar, demikian sebaliknya Paradigma yang salah akan mempengaruhi sikap hidup yang salah.

Sebagai orang percaya seharusnya kita memiliki paradigma rohani, supaya sikap hidup kita terus sesuai dengan Alkitab. Apakah seseorang yang percaya Yesus itu secara instan memiliki paradigma rohani? Tentu tidak ya, butuh proses.

Roma 12:2 (TB) “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Ayat yang kita baca itu mengajak kita untuk tidak mengikuti pola dunia yang egois dan berdosa, melainkan bertransformasi melalui pembaharuan pikiran (metamorfosis) agar hidup kita berkenan kepada Allah. Ini adalah panggilan untuk melawan arus, mengubah cara berpikir, dan memahami kehendak Tuhan yang baik, sempurna, dan menyenangkan-Nya.

Konsep dunia sangat berbeda dengan Alkitab dalam berbagai hal, termasuk filosofi dan prinsip hidup. Dalam konsep keselamatan, pada umumnya sebagian orang beranggapan bahwa perbuatan baik membawa seseorang kepada keselamatan, tetapi Alkitab berkata keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus melalui iman yang benar, yakni disertai dengan tindakan serta kerjakanlah keselamatanmu (Ef 2:8-10; Yak. 2:14-17 ; Filipi 2:12).

Demikian juga dalam konsep meraih berkat finansial atau menjadi kaya, prinsipnya “hemat pangkal kaya”. Tetapi, Alkitab menekankan “banyak memberi, banyak menerima” (Ams 11:24-25). Bahkan, Alkitab mengajarkan pengampunan, relasi dengan Tuhan, dan keuntungan menderita bagi Kristus. Perbedaan konsep atau pandangan ini tentu didasari oleh paradigma.

Paradigma Rohani membuat kita memiliki :

1. Kesadaran untuk membuang konsep yang lama dalam pikiran.

Buanglah konsep yang lama dalam pikiranmu dan milikilah paradigma yang Alkitabiah melalui pembelajaran firman Tuhan dan proses pembentukan iman melalui kesulitan atau persoalan hidup.

Pemahaman atau konsep kita yang lama perlu kita buang dan membuka diri kita kepada pengetahuan yang baru di mana murni pengajaran Alkitab yang kita terima. Ada banyak doktrin yang membuat kita akhirnya bingung untuk mengikuti yang mana. Tetapi bila kita sungguh-sungguh mau mengenal kebenaran, maka nurani kita bisa membedakan manakah ajaran yang benar dan manakah pengajar yang benar.

Tidak bisa tidak, bila ingin mengalami pembaharuan akal budi atau memiliki paradigma alkitabiah, haruslah membuang pemahaman yang lama, yang sebenarnya bukan ajaran yang berdasarkan Alkitab melainkan ajaran manusia yang seolah-olah Alkitabiah.

Ketika seseorang memiliki paradigma yang Alkitabiah, maka ia akan mengalami pembaharuan akal budi atau pembaharuan iman yang disertai dengan perbuatan yang tunduk dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Rasul Paulus menasihatkan kepada kita agar, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, ….” Kata “budimu” dalam bahasa Yunani yaitu naos, artinya “akal budimu”. Ketika paradigma kita berubah dan selaras dengan Alkitab, maka kita dapat membedakan manakah kehendak Allah.

Karena itu, biarkan Roh Kudus membaharui pikiran, perasaan, dan kehendak kita sehingga sesuai dengan Alkitab, melalui pembelajaran yang intensif akan kebenaran Alkitab, doa, dan pengalaman hidup bersama Tuhan.

2. Pertumbuhan Iman dan Kedewasaan Rohani.

Pertumbuhan iman dan kedewasaan rohani dicapai karena adanya pembaharuan paradigma secara rohani yakni sudut pandang yang didasari, dilandaskan, dan sesuai dengan Alkitab.

Memiliki paradigma yang Alkitabiah atau pemahaman yang sesuai dengan standar Alkitab, memang tidak otomatis dan membutuhkan proses. Namun tentu tergantung kepada setiap individu.

Bila seseorang dengan giat belajar Alkitab dan memaksakan diri untuk menghidupi kebenaran, maka akan semakin cepat mengalami pembaharuan akal budinya, bahkan akan mengalami pengalaman indah bersama Tuhan dalam pengenalan akan Kristus yang semakin disempurnakan melalui bimbingan Roh Kudus. Hari demi hari, manusia batinnya dibaharui.

Sebaliknya, bila tetap berkeras hati dan tegar tengkuk dalam bimbingan Roh Kudus, prosesnya membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan seumur hidup pun tidaklah cukup. Contohnya dapat kita lihat dalam kehidupan bangsa Israel sewaktu menuju ke tanah Kanaan.

Perjalanan bangsa Israel menuju tanah Perjanjian atau negeri Kanaan, sebenarnya dapat ditempuh beberapa tahun saja atau bisa juga dalam tiga bulan saja dan atau 40 hari saja.

Bahkan bisa ditempuh dalam waktu 10 hari berjalan kaki. Seperti yang pernah dilakukan oleh anak-anak Yakub sewaktu mereka hendak bertemu Yusuf di Mesir, untuk membeli makanan agar keluarga mereka terhindar dari bencana kelaparan (Kejadian 42:3).

Namun faktanya bangsa israel mencapai 40 tahun lamanya. Tentu, hal ini disebabkan oleh paradigma mereka yang masih terpaut dengan kehidupan lampau, sehingga mereka bersikap tegar tengkuk dan suka bersungut-sungut. Pertumbuhan imannya lambat dan tidak bisa dewasa rohaninya.

3. Kemampuan Melihat Kebaikan dan Rencana Tuhan yang terindah meskipun dalam penderitaan.

Tuhan menunjukkan pemeliharaan dan kasih-Nya melalui tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari, bahkan Tuhan menyediakan makanan dan minuman bagi bangsa israel selama 40 tahun, tepatnya itu 39 tahun, sebelas bulan.

Perlindungan Tuhan bagi mereka 24 jam nonstop, pakaian dan kasut pun tidak rusak walau di padang gurun. Tetapi, mereka tidak melihatnya sebagai anugerah terindah dari Tuhan.”

Di pikiran mereka, kehidupan di Mesir lebih baik daripada di padang gurun, apalagi ketika mereka akan memasuki tanah Kanaan. Tentu mereka akan mengalami kekalahan dan binasa karena bangsa yang mereka hadapi adalah orang-orang raksasa (Bil 13:33; 14:1-4).

Paradigma inilah yang membuat bangsa Israel tidak dapat melihat kebaikan dan rencana Tuhan yang indah dalam perjalanan iman mereka untuk menggapai janji Tuhan. Bahkan, Tuhan pun hilang kesabaran terhadap bangsa tersebut (Bil 14:26-35). Janganlah kita meniru sikap keras dan tegar tengkuk bangsa tersebut.

Jadilah anak Tuhan atau hamba Tuhan yang taat! Jangan biarkan persungutan, tegar tengkuk, dan kekerasan hati menghalangi pengenalan yang benar akan Allah. Milikilah kecepatan yang maksimal dalam melalui perjalanan iman kita. Mulailah saat ini dengan penuh kesadaran untuk mengubah paradigma kita sehingga selaras dengan Alkitab dan berjalanlah dalam kehendak-Nya.

KESIMPULAN :

Perubahan hidup dalam pemikiran, prinsip, pertobatan, dan pelayanan merupakan hasil dari paradigma rohani kita. Mari kita hidup dalam Paradigma Rohani setiap hari agar hidup kita tidak serupa pemikiran dunia ini, tetapi kita terus memiliki pikiran Alkitab dalam paradigma rohani kita, maka kita akan mengalami :

1. Kesadaran untuk membuang konsep yang lama dalam pikiran.

2. Pertumbuhan Iman dan Kedewasaan Rohani.

3. Kemampuan Melihat Kebaikan dan Rencana Tuhan yang terindah meskipun dalam penderitaan.

Author admin