Belakangan ini ada satu istilah yang sangat populer di kalangan anak muda dan media sosial, yaitu kata “Ghosting“. Secara sederhana, ghosting adalah tindakan menghilang secara tiba-tiba tanpa kabar, tanpa penjelasan, dan tanpa jejak. Biasanya terjadi dalam sebuah hubungan—awalnya sangat dekat, berkomitmen, intens berkomunikasi, lalu tiba-tiba salah satu pihak lenyap seperti hantu (ghost). Telepon tidak diangkat, pesan tidak dibalas, media sosial diblokir. Meninggalkan pihak yang satunya lagi dalam kebingungan, terluka hatinya, dan mengalami ketidakpastian.
Namun hari ini, kita tidak sedang berbicara tentang ghosting dalam drama percintaan anak muda. Kita mau melihat sebuah fenomena rohani yang jauh lebih berbahaya: Spiritual Ghosting (Ghosting Rohani). Yaitu ketika orang kristen yang awalnya bersemangat mengikut Yesus, rajin melayani, dan aktif dalam komunitas, tiba-tiba pelan-pelan menghilang, menjauh dari Tuhan, dan akhirnya meninggalkan iman mereka sebelum mencapai garis akhir. Ini hidup yang tidak dikehendaki Tuhan.
Matius 24:13 (TB) “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”
Firman Tuhan hari ini dari Matius 24:13 ini dengan tegas berkata: “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Ini adalah sebuah panggilan untuk Anti-Ghosting terhadap Tuhan dan iman kita. Ini adalah panggilan untuk Finishing Well—menyelesaikan pertandingan dengan baik hingga akhir.
ILUSTRASI 1:
Kisah Derek Redmond (Olimpiade Barcelona 1992).
Untuk memahami apa artinya bertahan sampai akhir, mari kita ingat kembali sebuah peristiwa bersejarah di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Ada seorang pelari cepat asal Inggris bernama Derek Redmond. Ia adalah favorit juara untuk nomor lari 400 meter.
Ketika pistol start berbunyi, Derek melesat dengan luar biasa. Namun, tepat di pertengahan lintasan (sekitar 250 meter menjelang garis finish), tiba-tiba otot hamstring-nya robek. Derek langsung tersungkur ke tanah sambil memegang kakinya yang kesakitan. Ambulans dan tim medis segera berlari mendekat. Impiannya meraih medali emas hancur dalam hitungan detik.
Namun, sesuatu yang luar biasa terjadi. Derek menolak untuk menyerah. Dia bangkit berdiri dengan air mata menetes, menepis tim medis, dan mulai melompat-lompat dengan satu kaki yang tersisa. Dia pincang, kesakitan, bergerak sangat lambat, tetapi matanya hanya tertuju pada satu hal: Garis Finish. Di tengah kerumunan penonton, seorang pria paruh baya menerobos penjagaan keamanan. Pria itu adalah Jim Redmond, ayah Derek. Sang ayah berlari ke lintasan, merangkul putranya yang sedang menangis, dan berkata, “Nak, kamu tidak harus melakukan ini.” Derek menjawab, “Ayah, aku harus menyelesaikannya.” Ayahnya kemudian berkata, “Kalau begitu, kita akan menyelesaikannya bersama-sama.”
Dengan bersandar pada bahu ayahnya, Derek terus melangkah pincang hingga akhirnya melewati garis finish. Seluruh stadion berdiri dan memberikan standing ovation (tepuk tangan penghormatan) yang luar biasa. Derek tidak memenangkan medali, tetapi dia memenangkan hati dunia karena dia memilih untuk tidak ‘ghosting’ dari lintasan pertandingan. Dia memilih untuk finish well.
Dalam Matius 24 ini, Yesus sedang memperingatkan para murid tentang akhir zaman. Ayat-ayat sebelum ayat 13 menjelaskan situasi yang sangat berat: ada penyesatan, perang, kelaparan, penganiayaan, dan ayat 12 menuliskan: “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.”
Di tengah tekanan hidup, penderitaan, dan lingkungan yang buruk, godaan terbesar manusia adalah ghosting rohani yaitu menyerah dan mundur secara perlahan. Tuhan tidak mau kita lakukan ghosting rohani.
Bagaimana supaya kita bisa menjadi orang Kristen yang “Anti-Ghosting” dan finishing well?
1. Memahami bahwa Mengikut Yesus adalah Lari Maraton, Bukan Lari Sprint.
Banyak orang Kristen gagal bertahan karena mereka memiliki mentalitas lari sprint (lari cepat jarak pendek). Di awal bertobat, mereka menggebu-gebu, tetapi ketika menghadapi tantangan, kecewa dengan sesama jemaat, atau doa belum dijawab, mereka langsung kehilangan stamina rohani dan menghilang.
– Mengikut Yesus membutuhkan daya tahan (endurance). Bertahan (hupomeno dalam bahasa Yunani) berarti tetap tinggal di bawah beban tanpa menyerah.
– Finishing well tidak ditentukan oleh seberapa cepat atau hebatnya kita memulai, melainkan oleh ketekunan kita untuk terus melangkah bersama Tuhan setiap hari.
Ibrani 12:1 (TB) Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
Ayat tersebut mempertegas bahwa iman Kristen adalah perlombaan jarak jauh yang membutuhkan ketekunan (endurance) untuk menyingkirkan hal-hal yang menghambat kita pelari rohani.
Yakobus 1:12 (TB) Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
Ayat tersebut Menegaskan upah bagi mereka yang menolak untuk ghosting (mengundurkan diri) dari ujian iman.
2. Menolak Menjadi Dingin karena Kedurhakaan Dunia (Matius 24:12).
Dunia hari ini menawarkan kenyamanan, kompromi terhadap dosa, dan egoisme yang bisa membuat kasih kita kepada Tuhan mendingin secara perlahan. Spiritual ghosting jarang terjadi secara mendadak. Biasanya dimulai dari hal kecil, contohnya : sengajain bolos ibadah sekali tanpa alasan yang benar, berhenti saat teduh seminggu, mulai kompromi dengan dosa kecil, hingga akhirnya menjauh sepenuhnya dari Tuhan. Kita harus menjaga api kasih kita kepada Tuhan tetap menyala melalui keintiman yang konsisten dengan-Nya.
Wahyu 2:4-5a (TB) Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! ………
Ayat tersebut adalah teguran langsung dari Tuhan Yesus kepada jemaat di Efesus yang mulai melakukan spiritual ghosting secara perlahan. Mereka sibuk melayani, tetapi hubungan pribadinya dengan Tuhan mendingin.
Galatia 6:9 (TB) Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
Kata “tidak menjadi lemah” dalam bahasa aslinya juga berarti tidak menyerah atau tidak mundur di tengah jalan.
3. Bersandar pada Kekuatan “Bapa” yang Menopang Kita.
Sama seperti Derek Redmond yang tidak mampu melangkah sendirian dan membutuhkan bahu ayahnya, kita pun tidak akan bisa mencapai garis finish jika mengandalkan kekuatan sendiri. Saat kita terluka oleh pelayanan, saat kita lelah dengan tekanan ekonomi, atau saat kita jatuh dalam kegagalan, jangan lari menjauh dari Tuhan (ghosting). Datanglah kepada Bapa, maka Roh Kudus adalah Penolong yang siap merangkul dan berjalan bersama kita sampai garis akhir.
Yesaya 40:29 & 31 (TB) Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa Saat stamina rohani kita habis, Tuhan adalah sumber kekuatan yang baru untuk kita.
Filipi 1:6 (TB) Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.
Ayat ini Menegaskan pada kita bahwa finishing well adalah proyek bersama dengan Allah. Dia yang memulai, Dia juga yang akan menopang kita sampai garis akhir.
ILUSTRASI 2 :
Bambu Cina dan Kekuatan Akarnya.
Untuk memahami Mengapa ada orang Kristen yang bisa tetap bertahan di tengah badai hidup, sementara yang lain langsung lenyap? Jawabannya ada pada apa yang tidak terlihat yaitu Akar.
Pernahkah Anda mendengar tentang pohon Bambu Cina? Ketika benih bambu ini ditanam, disiram, dan diberi pupuk setiap hari, tidak ada pertumbuhan yang terlihat di atas tanah selama tahun pertama. Tahun kedua, tetap tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tahun ketiga dan keempat, hasilnya sama. Bagi orang yang tidak mengerti, mereka mungkin berpikir bahwa benih itu sudah mati atau gagal. Mereka mungkin akan menyerah dan meninggalkannya (ghosting).
Namun, pada tahun kelima, keajaiban terjadi. Hanya dalam waktu sekitar enam minggu, pohon bambu cina tersebut tiba-tiba tumbuh melesat hingga setinggi 25-30 meter! Apa yang terjadi selama 4 tahun pertama? Mengapa tidak ada pertumbuhan di atas tanah? Ternyata, selama empat tahun itu, bambu tersebut sedang menumbuhkan akarnya ke dalam tanah secara masif dan kuat. Ia membangun fondasi yang kokoh agar ketika ia tumbuh tinggi menjulang, ia sanggup menahan tiupan angin badai yang kencang tanpa tumbang.
Kehidupan Kristen yang finishing well adalah kehidupan yang akarnya tertanam dalam di dalam Tuhan. Ketika hidup kita tidak terlihat mengalami perubahan besar, atau ketika badai datang bertubi-tubi, tetaplah tertanam. Jangan ghosting dari persekutuan, jangan ghosting dari firman Tuhan. Sebab di dalam kesunyian dan ketekunan itulah, Tuhan sedang memperkuat akar iman kita agar kita tidak mudah roboh.
Kolose 2:6-7 (TB) Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.
Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Penegasan teologis untuk Ilustrasi ini adalah adanya Fondasi yang tidak terlihat (akar yang tertanam di dalam Kristus) adalah kunci utama agar hidup kita tidak goyah ketika diterpa badai kehidupan. Halleluyah…
Yeremia 17:7-8 (TB) Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
KESIMPULAN :
Bapak, Ibu, dan Saudaraku yang dikasihi Tuhan, Di akhir hidupnya, Rasul Paulus dengan penuh kemenangan menulis dalam 2 Timotius 4:7: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Paulus adalah teladan utama dari seseorang yang finishing well. Hidupnya penuh penjara, pukulan, karam kapal, dan penolakan, tetapi dia tidak pernah melakukan ghosting rohani kepada Yesus.
Hari ini, mari kita periksa diri kita masing-masing.
Apakah kasih kita kepada Tuhan sedang mendingin?
Apakah kita sedang tergoda untuk mundur dari pelayanan atau dari komsel karena kecewa atau lelah?
Apakah kita sedang menjaga jarak dengan Tuhan?
Ingatlah, keselamatan dan mahkota kehidupan disediakan bagi mereka yang bertahan sampai pada kesudahannya. Jangan menjadi generasi Kristen yang mudah hilang tanpa kabar saat menghadapi masalah. Jadilah generasi Kristen yang setia, tangguh, dan berkomitmen penuh.
Tuhan tidak pernah ghosting dalam kehidupan kita. Dia berjanji: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20). Jika Tuhan setia kepada kita, mari kita juga setia kepada-Nya sampai garis finish, dengan cara :
1. Memahami bahwa Mengikut Yesus adalah Lari Maraton, Bukan Lari Sprint.
2. Menolak Menjadi Dingin karena Kedurhakaan Dunia (Matius 24:12).
3. Bersandar pada Kekuatan “Bapa” yang Menopang Kita.