Saudara yang dikasihi Tuhan, hari ini kita mau bahas sesuatu yang santai tapi serius tentang spiritual journey kita masing-masing. Ini relate dengan realita hidup kita.

Sadar atau tidak, kita ini hidup di zaman yang serba “Butuh Validasi.” Mau makan, foto dulu demi story. Pakai baju OOTD (outfit of the day) yang keren, terus wajib posting supaya dapat likes. Masuk ke tempat hits, langsung bikin konten biar dibilang up-to-date. Kita sering sekali haus akan tombol like, jumlah view, dan komen “Keren banget lo!”

Tapi jujur deh, capek enggak sih kalau hidup kita terus-menerus disetir sama omongan, penilaian, dan jempol orang lain? Nah, hari ini kita mau check-up rohani kita lewat firman Tuhan.

Matius 6:1 (TB) “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.”

Saudaraku yang dikasihi Tuhan, ayat teks tersebut dimana Yesus pernah memberikan peringatan yang sangat tegas dalam khotbah-Nya di bukit.

Di sini Yesus lagi nge-spill sebuah kebenaran penting buat kita. Yesus tidak melarang kita berbuat baik atau menjalankan kewajiban agama. Yang Yesus sorot di sini adalah motivasinya. Apakah kita melakukan pelayanan, ibadah, atau kebaikan hanya demi “social validation” alias cari muka di depan manusia?

Ada 3 Tanda Kita Lagi “Cari Panggung” (Bukan Cari Tuhan) :

Dalam spiritual journey kita, sering kali musuh terbesar kita bukan iblis yang seram, tapi Ego kita sendiri. Ini dia 3 tanda kalau kita lagi terjebak nyari validasi manusia:

1. Penyakit “Kamera Harus On”.

Kita baru merasa bersemangat berbuat baik kalau ada orang lain yang tahu. Kalau pelayanan di belakang layar yang enggak kelihatan orang, kita malas-malasan. Tapi kalau di depan panggung, langsung all-out.

2. Gampang Baper Kalau Enggak Diapresiasi.

Saat kita sudah capek-capek bantu orang atau pelayanan, tapi ketua youth atau pendeta lupa sebut nama kita buat bilang “terima kasih,” kita langsung ngambek dan mogok ibadah. Itu tandanya yang kita cari bukan senyumnya Tuhan, tapi tepuk tangan manusia.

3. Punya “Topeng” Rohani.

Di gereja kelihatan paling suci dan bucin sama Tuhan, tapi di luar (di tongkrongan atau di media sosial), hidup kita toxic banget. Kita cuma pengin kelihatan saleh demi personal branding.

Ilustrasi Cerita Nyata: Kisah C.S. Lewis dan “The Inner Ring”

Untuk memahami betapa berbahayanya jebakan validasi ini, ada sebuah cerita bagus dari seorang penulis kekristenan terkenal bernama C.S. Lewis (penulis buku The Chronicles of Narnia).

Suatu hari, dia memberikan pidato yang sangat terkenal tentang sesuatu yang disebut “The Inner Ring” atau Lingkaran Dalam. Lewis menceritakan rahasia terdalam manusia: Sejak kita remaja sampai dewasa, ketakutan terbesar kita adalah dikecualikan atau enggak dianggap sama kelompok yang keren. Kita rela mengubah gaya bicara kita, cara berpakaian kita, bahkan mengorbankan prinsip hidup kita hanya demi bisa diterima dan mendapat validasi dari “lingkaran elite” tersebut.

Tapi Lewis memberikan tamparan keras buat kita. Dia bilang: Begitu kamu berhasil masuk ke lingkaran yang kamu puja-puja itu, kamu bakal sadar kalau di dalamnya ternyata kosong. Kamu bakal tetap merasa haus, dan kamu akan mulai mencari lingkaran lain yang lebih tinggi lagi untuk mendapatkan validasi baru. Keinginan dipuji manusia itu kayak minum air asin—makin diminum, justru makin bikin haus.

Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan Yesus, apa yang dikatakan C.S. Lewis itu benar banget. Pengejaran kita akan validasi manusia itu enggak akan pernah ada ujungnya. Waktu kita membawa mentalitas “haus pujian” ini ke dalam spiritual journey kita, jalannya pasti akan terasa melelahkan karena kita sibuk menyenangkan hati manusia.

Lalu, gimana caranya supaya kita bisa keluar dari lingkaran setan yang melelahkan ini? Gimana kita bisa memindahkan fokus kita dari panggung manusia ke hadirat Tuhan?

The Solution: Shift Your Focus (RUBAH FOKUS ANDA)

Rasul Paulus memberikan rahasia untuk merdeka dari validasi manusia.

Galatia 1:10 (TB)  “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.“

Supaya spiritual journey kita sehat, kita harus bisa melakukan perubahan fokus (shift focus) lewat 3 hal ini:

1. Ingatlah Kalau Validasi dari Tuhan Itu Sudah Cukup.

Anda tidak perlu membuktikan apa-apa lagi ke manusia. Tuhan sudah mati di kayu salib buat anda. Dia sudah bilang kalau anda itu berharga, dikasihi, dan dipilih. You are already approved by God!

2. Latihan “Silent Goodness“.

Coba sesekali berbuat baik, beri donasi, atau doain orang secara diam-diam tanpa ada yang tahu. Rasakan indahnya momen di mana cuma kamu dan Tuhan yang tahu rahasia itu.

3. Ubah Mindset Pelayanan.

Pelayanan atau ibadah itu bukan tempat cari panggung, tapi tempat kita bersyukur karena Tuhan sudah baik banget buat kita.

KESIMPULAN :

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan. Tuhan Yesus pernah mengingatkan kita semua dengan keras.

Yohanes 5:44 (TB)  Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?

Jadi, buat kita semua yang lagi ada di dalam spiritual journey ini, yuk kita log out dari keinginan dipuji manusia, dan log in ke hadirat Tuhan yang tulus. Upah dari manusia itu sifatnya sementara—paling cuma bertahan beberapa jam di kolom komentar atau feeds kita. Tapi upah dan kedamaian dari Bapa di surga itu sifatnya kekal. Jangan biarkan perjalanan rohani kita rusak hanya demi tepuk tangan sementara.

Mari kita menyenangkan hati Tuhan, dan tidak perlu lagi mencari validasi / pengakuan dari manusia, dengan cara :

1. Ingatlah Kalau Validasi dari Tuhan Itu Sudah Cukup.

2. Latihan “Silent Goodness“.

3. Ubah Mindset Pelayanan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin!