Seringkali kita tidak menyadari bahwa Tuhan dari awal telah membuat cetak biru (rencanaNya) di hidup kita. Tuhan mau kita tetap setia pada rencana/cetak biru Tuhan itu ditengah krisis, penderitaan dan kejenuhan hidup, sehingga kita mampu mencapai garis akhir hidup kita dengan iman yang utuh (finishing well).
Filipi 1:6 (TB) “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”
Saudaraku yang dikasihi Tuhan, Pada tahun 1969, sebuah lukisan kuno yang sangat kotor, gelap, dan rusak ditemukan di sebuah gereja tua di Inggris. Lukisan itu dilelang dengan harga sangat murah, hanya sekitar £45 poundsterling, karena semua orang menganggapnya sebagai barang rongsokan yang sudah tidak ada harganya. Namun, seorang kolektor membelinya dan membawa lukisan rusak itu ke seorang ahli restorasi terbaik dunia.
Proses restorasinya memakan waktu bertahun-tahun. Lapisan kotoran dikikis perlahan dengan zat kimia khusus. Kadang-kadang, prosesnya terlihat mengerikan, seolah-olah zat kimia itu justru sedang merusak kanvasnya. Namun, sang ahli restorasi tahu persis apa yang sedang dia lakukan. Ketika proses itu selesai, seluruh dunia terkejut. Lukisan kotor itu ternyata adalah “The Medicine Man”, sebuah mahakarya asli dari pelukis legendaris dunia, Anthony van Dyck. Nilainya langsung melonjak dari puluhan ribu rupiah menjadi miliaran rupiah!
Saudaraku, hidup kita sering kali seperti lukisan itu. Penuh noda, mengalami retakan akibat badai hidup, dipenuhi kekecewaan, dan kadang-kadang proses pembentukan Tuhan di dalam hidup kita terasa sangat menyakitkan. Namun, dengarkan ini: Tuhan adalah Sang Seniman Agung. Dia tidak pernah membuang hidup Anda. Dia sedang merestorasi hidup Anda sesuai dengan plot (rencana) asli-Nya.
Hari ini kita belajar satu tema penting : STAYING TRUE TO THE PLOT. Tetaplah setia pada naskah-Nya, agar di akhir hidup kita nanti, Anda dan saya bisa tampil sebagai mahakarya yang sempurna dan menyelesaikannya dengan gemilang (finishing well).
Melalui Filipi 1:6 tersebut, Rasul Paulus membagikan tiga kebenaran besar bagaimana kita bisa tetap setia pada naskah Tuhan hingga akhir hayat :
1. THE AUTHOR (Kedaulatan Allah di Awal Hidup Kita).
“Ia, yang telah memulai pekerjaan yang baik di antara kamu…”
Banyak orang hari ini mengalami krisis eksistensial (keberadaan hidup). Mereka stres, cemas, dan bertanya-tanya: “Untuk apa aku hidup? Mengapa jalanku seperti ini?”
Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Filipi—dan kepada kita hari ini—bahwa hidup kita bukanlah produk kebetulan. Hidup Anda bukan hasil kecelakaan biologis.
Anda lahir di keluarga Anda yang sekarang, di zaman ini, dengan segala talenta dan kelemahan Anda, itu karena Tuhan yang memulai plot hidup itu. Tuhan adalah Pemilik Cetak Biru hidup kita. Dia adalah Sang Penulis naskah hidup kita.
Firman Tuhan berkata, Dia memulai pekerjaan yang baik. Apa pun latar belakang masa lalu Anda, seburuk apa pun lembaran lama Anda, itu tidak membatalkan niat baik Tuhan untuk masa depan Anda. Naskah yang Tuhan tulis untuk Anda dikonfirmasi dalam Yeremia 29:11: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu… rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Jika Tuhan yang memulai cerita hidup Anda, maka Dia juga yang memegang kendali penuh atas awal dan akhir hidup Anda. Jangan biarkan intimidasi masa lalu membuat Anda keluar dari plot/alur yang sudah Tuhan siapkan.
2. THE PROCESS (Ketekunan di Tengah “Plot Twist” Kehidupan).
“…akan meneruskannya…”
Kata “meneruskannya” dalam bahasa aslinya mengandung arti “menyempurnakan secara bertahap.” Ini berarti Tuhan tidak pernah meninggalkan proyek yang sudah Dia mulai. Dia tidak seperti manusia yang sering meninggalkan pekerjaan di tengah jalan karena bosan atau kehabisan modal. Tuhan terus bekerja, bahkan saat kita tidak melihat tangan-Nya bergerak.
Namun mari kita jujur, di tengah-tengah kehidupan, kita sering mengalami plot twist—alur cerita yang berbelok mendadak. Sakit penyakit yang tiba-tiba datang. Krisis keuangan atau kebangkrutan bisnis. Kehilangan orang yang paling kita cintai. Kekecewaan akibat dikhianati oleh orang terdekat dan hal-hal lainnya yang merugikan kita.
Saat menghadapi tikungan tajam kehidupan seperti ini, godaan terbesar kita adalah mengubah naskah sendiri. Kita mulai mengambil jalan pintas yang berdosa, kita mulai kompromi, atau kita mulai mogok mengikut Tuhan karena kecewa. Ingatlah apa yang dikatakan Roma 8:28: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Perhatikan kata “segala sesuatu.” Allah memakai bab yang menyenangkan MAUPUN bab yang penuh air mata untuk merajut cerita hidup Anda. Staying true to the plot berarti berkata: “Tuhan, aku tidak paham alur cerita-Mu saat ini, tetapi aku memilih untuk tetap taat dan tinggal dalam kehendak-Mu.”
3. THE GRAND FINALE – Mengakhiri Hidup dengan Gemilang (Finishing Well).
“…sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”
Saudaraku, memulai dengan baik itu penting. Namun, mengakhiri dengan baik (finishing well) itu jauh lebih menentukan. Di dalam Alkitab maupun di kehidupan nyata, kita melihat banyak orang kristen yang memulai hidupnya dengan luar biasa, tetapi mengakhirinya dengan sangat buruk. Mereka mengakhiri hidup dengan hati yang pahit, meninggalkan iman, atau terperosok dalam dosa di masa tuanya.
Rasul Paulus menulis surat Filipi ini dari dalam penjara Roma. Secara fisik dia menderita, dia dibatasi, dan kematian sudah di depan mata. Namun, Paulus tidak menjadi pahit. Mengapa? Karena matanya tertuju pada garis akhir yang sesungguhnya yaitu Hari Kristus Yesus.
Di akhir hayatnya, Paulus mampu berkata dengan bangga dalam 2 Timotius 4:7: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Bapak, Ibu, Saudaraku sekalian… Akhir hidup yang sukses di mata Tuhan bukan diukur dari seberapa banyak tumpukan harta yang kita tinggalkan, atau seberapa megah batu nisan kita nanti. Finishing well adalah ketika kita mengembuskan napas terakhir dengan iman yang utuh, hati yang murni, dan kasih yang tetap menyala-nyala kepada Tuhan Yesus. Standart kesetiaan kita bukanlah usia pensiun, melainkan sampai hembusan napas terakhir kita di bumi ini.
Bagaimana Kita Bisa Bertahan Sampai Akhir?Agar kita tidak menyerah di tengah jalan dan bisa finishing well, lakukan tiga hal praktis ini setiap hari :
1. Menjaga Hati dari Kepahitan.
Musuh/iblis tidak perlu menghancurkan ekonomi Anda untuk membuat Anda gagal. Dia hanya perlu meracuni hati Anda dengan kekecewaan dan kepahitan. Amsal 4:23 mengingatkan kita: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Jika hati Anda terluka karena manusia atau keadaan, bawa segera ke salib Yesus. Jangan biarkan ada akar pahit yang merusak akhir cerita indah hidup Anda.
2. Mengatasi Kejenuhan dengan Datang pada Sumber Kekuatan.
Ada kalanya kita merasa sangat lelah secara mental, secara emosional, dan secara rohani dalam menjalani plot kehidupan ini. Itu manusiawi. Namun saat Anda jenuh, jangan lari ke dunia, larilah kepada Tuhan Yesus.
Yesaya 40:31 berjanji: “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya…”
Saat Anda intim dengan Tuhan di ruang doa pribadi, Dia akan menukar kelelahan Anda dengan kekuatan supranatural-Nya.
3. Hiduplah dengan Perspektif Kekekalan.
Setiap pagi saat terbangun, ingatkan diri Anda: “Hari ini adalah satu langkah lebih dekat menuju garis akhir.” Investasikan waktu, tenaga, dan hidup Anda pada hal-hal yang bernilai kekal, bukan pada hal-hal sementara yang akan lenyap ditelan bumi.
2 Korintus 4:18 (TB) “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”
KESIMPULAN :
Hidup Anda adalah sebuah buku yang sedang ditulis langsung oleh jemari Tuhan. Mungkin saat ini Anda sedang berada di bab yang sangat gelap, penuh dengan air mata, pergumulan berat, dan kebingungan. Namun ingatlah kebenaran hari ini: Tuhan belum selesai menulis cerita hidup Anda!
Jangan tutup buku Anda sebelum waktunya. Jangan melambaikan bendera putih tanda menyerah di tengah jalan. Tetaplah setia pada rencana-Nya (stay true to the plot). Sang Penulis cerita hidupmu adalah Tuhan yang setia. Dia yang memulai hidup Anda dengan rahmat, Dia yang menopang Anda di tengah badai dengan kasih, dan Dia pula yang akan menyambut Anda di garis akhir dengan pelukan-Nya yang hangat, sambil berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; ……” Matius 25:21a (TB).
Mari kita berkomitmen hari ini: Kita memulai bersama Tuhan, kita berjalan bersama Tuhan, dan kita pasti akan menyelesaikan garis akhir hidup kita dengan gemilang bersama Tuhan, dengan cara setiap hari :
1. Menjaga Hati dari Kepahitan.
2. Mengatasi Kejenuhan dengan Datang pada Sumber Kekuatan.
3. Hiduplah dengan Perspektif Kekekalan.