Sikap yang lainnya dalam pelayanan itu adalah berfokus membangun kompetensi. Kompetensi itu adalah Ketrampilan (Skill) ditambah Kemampuan yang bisa dikembangkan (Potensi) didalam diri kita. Maka dari itu membangun kompetensi adalah termasuk panggilan iman. Namun seringkali orang kristen terjebak dalam pemisahan yang ekstrem yaitu Kotak Rohani dan Kotak Sekuler.
Kotak Rohani dianggap sebagai tempat Tuhan bertahta (berdoa, beribadah, pelayanan gereja, komsel dan seterusnya).
Sedangkan Kotak Sekuler itu dianggap sebagai wilayah netral atau wilayah duniawi (pekerjaan kantor, kuliah, sekolah, bisnis dan seterusnya).
Padahal setiap aktivitas kita itu baik di ranah “rohani” maupun “sekuler” harus dikerjakan dengan sepenuh hati untuk kemuliaan Tuhan, dan bukan untuk manusia. Konsep ini menolak dualisme iman dan mendorong kita untuk menjadi saksi Kristus melalui kompetensi yang bagus di segala bidang kehidupan kita.
Kolose 3:23 (TB) “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Seringkali kita merasa Tuhan hanya hadir dan dimuliakan di dalam kotak rohani. Namun, firman Tuhan yang kita baca hari ini meruntuhkan dinding pemisah kedua kotak itu. Artinya segala aspek hidup kita adalah ibadah yang utuh untuk Tuhan.
Rasul Paulus menulis surat Kolose ini kepada jemaat awam, bahkan termasuk para hamba yang melakukan pekerjaan kasar sehari-hari. Paulus memberikan sudut pandang radikal yaitu bahwa pekerjaan sehari-hari kita itu adalah mimbar pelayanan kita. Ketahuilah bahwa membangun kemampuan, keahlian, dan kompetensi di dalam profesi kita adalah bagian dari iman Kristen yang sejati.
Membangun kompetensi adalah bentuk ibadah. Berdasarkan Kolose 3:23, etos kerja Kristen berpusat pada Tuhan. Keunggulan dan dedikasi kita dalam mengasah keterampilan bukan untuk mencari pujian manusia, melainkan persembahan terbaik kita bagi kemuliaan Kristus.
Bekerja dan belajar dengan maksimal bukanlah beban, melainkan kesempatan melayani. Saat kita menyadari bahwa Tuhan adalah “bos” yang sesungguhnya, standar kompetensi kita berubah dari “asal-asalan” menjadi “kesempurnaan”.
Kompetensi yang mumpuni itu tidak datang secara instan. Kita dipanggil untuk terus berakar, bertumbuh, dan mengasah kapasitas kita.
Profesionalisme sejati terlihat saat tidak ada orang yang mengawasi (atau ketika atasan tidak melihat). Akibatnya Kompetensi yang luar biasa itu akan menjadi jembatan untuk memuliakan Tuhan dan memberkati sesama.
Namun seringkali ada hambatan dalam kita membangun kompetensi itu. Oleh karena itu kita perlu mengatasi Hambatan Kompetensi itu dengan cara Menghilangkan Keluhan, yaitu sikap menggerutu atau bersungut-sungut yang merusak esensi pelayanan kita.
Kita juga harus Berani Keluar dari Zona Nyaman kita dengan Pelajari hal-hal baru, kuasai teknologi atau keterampilan baru untuk beradaptasi di lingkungan dan pelayanan kita.
Ada 3 Prinsip Membangun Kompetensi Illahi :
1. Mengubah Identitas “Majikan” Kita (Melakukannya “Seperti untuk Tuhan”).
Rasul Paulus berkata, “seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Masalah terbesar kita dalam bekerja atau mengasah kemampuan adalah kita seringkali berfokus pada manusia. Jika bos kita galak, kita bekerja asal-asalan. Jika tidak ada yang memuji, kita mogok belajar.
Mulai hari ini, kita ubah cara pandang kita. Bayangkan di atas meja kantor kita, di kemudi mobil atau motor kita, di atas kompor dapur kita, ada “CCTV Surga”. Tuhan adalah Majikan utama kita. Ketika kita meningkatkan kemampuan belajar akademik, menjahit, memasak, mengelola keuangan, atau memimpin perusahaan, pastikan semuanya itu kita sedang mempersembahkannya kepada Raja segala raja.
Ilustrasi :
Kisah Tiga Tukang Batu.
Di sebuah kota, ada seorang pengembara yang melihat tiga orang tukang batu sedang bekerja di bawah terik matahari.
Pengembara ini bertanya kepada tukang batu yang pertama, “Apa yang sedang Anda lakukan?” Dengan wajah cemberut dan nada kesal, dia menjawab, “Saya sedang menyusun batu-batu sialan ini demi mencari sesuap nasi.”
Pengembara berjalan ke tukang batu yang kedua dan mengajukan pertanyaan yang sama. Tukang batu kedua menjawab dengan datar, “Saya sedang membangun dinding, ini pekerjaan saya sehari-hari untuk menghidupi keluarga.”
Akhirnya, pengembara itu bertanya kepada tukang batu yang ketiga dengan mengajukan pertanyaan yang sama. Terlihat tukang batu ketiga ini melakukan hal yang sama, tetapi wajahnya penuh sukacita dan berseri-seri. Dia menjawab dengan bangga, “Saya sedang membangun sebuah rumah Tuhan (Rumah Ibadah) yang megah untuk kemuliaan Tuhan.”
Saudara, ketiga orang ini melakukan pekerjaan yang sama persis, tetapi dengan cara pandang yang berbeda. Pekerja pertama fokus pada beban hidup (manusia/perut), pekerja kedua fokus pada rutinitas, tetapi pekerja ketiga fokus pada Tuhan. Ketika kita menyadari bahwa kuliah, sekolah kita, profesi kita, pekerjaan kita di kantor, di pasar, atau di rumah adalah untuk membangun “Rumah Tuhan” buat kemuliaan Tuhan, maka kita tidak akan lagi melakukannya dengan asal-asalan.
2. Kualitas “Segenap Hati” (Ek Psyches).
Kata “segenap hati” dalam bahasa Yunani adalah ek psyches, yang berarti “keluar dari jiwa”. Ini adalah lawan kata dari setengah-setengah, malas, atau asal-asalan.
Membangun kompetensi membutuhkan kerelaan untuk terus belajar dan dikoreksi. Orang Kristen yang kompeten tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kedisiplinan. Jika Anda seorang pedagang, jadilah pedagang yang jujur dan ramah. Jika Anda seorang guru, belajarlah metode mengajar baru agar murid-murid Anda diberkati. Jangan biarkan cap “asal jadi” melekat pada kita anak-anak Tuhan.
Ilustrasi :
Kisah Penebang Pohon dan Kapak yang Tumpul.
Ada seorang pemuda kuat yang melamar kerja sebagai penebang pohon. Di hari pertama, karena semangatnya yang luar biasa, dia berhasil menebang 15 pohon. Bosnya memujinya, “Luar biasa, pertahankan!”
Didorong oleh pujian itu, di hari kedua dia bekerja lebih keras dan bangun lebih pagi. Namun anehnya, dia hanya bisa menebang 10 pohon. Di hari ketiga, dia memeras keringatnya lebih hebat lagi, tetapi hasilnya malah turun, dia hanya bisa menebang 5 pohon.
Pemuda ini menjadi frustrasi dan menghadap bosnya untuk meminta maaf karena merasa kekuatannya berkurang. Bosnya tersenyum dan bertanya satu hal sederhana, “Kapan terakhir kali kamu mengasah kapakmu?” Pemuda itu tertegun dan menjawab, “Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak, Bos, karena saya terlalu sibuk dan fokus menebang pohon.”
Seringkali kehidupan kita seperti penebang pohon ini. Kita terlalu sibuk beraktivitas, sampai lupa “mengasah kapak” kita—yaitu kapasitas, keterampilan, kesabaran, dan pengetahuan kita. Bekerja dengan segenap hati bukan berarti bekerja membabi buta tanpa arah, melainkan mau meluangkan waktu untuk belajar, evaluasi diri, dan meningkatkan kompetensi diri kita agar hasil kerja kita semakin tajam dan pelayanan kita memberkati banyak orang.
3. Kompetensi adalah Alat Kesaksian kita (Menjadi Garam dan Terang).
Dunia tidak selalu membaca Alkitab kita, tetapi dunia membaca kualitas hidup dan hasil kerja kita. Yusuf di Mesir menjadi perdana menteri bukan hanya karena dia pandai menafsirkan mimpi, tetapi karena dia kompeten mengelola lumbung pangan saat kelaparan melanda semua negeri.
Kompetensi yang dipadukan dengan karakter Kristus adalah senjata penginjilan paling tajam bagi kita. Saat kita dikenal sebagai pekerja yang paling ahli, paling jujur, dan paling solutif di tempat kerja, orang-orang dunia akan melihat ada Tuhan di dalam hidup kita.
Mari kita bawa firman ini ke dalam rumah dan tempat dimana kita bekerja, sekolah, kuliah dan lainnya.
Sebelum memulai aktivitas, katakan dalam doa: “Tuhan, aktivitas saya hari ini adalah persembahan saya bagi-Mu.”
Buang Mentalitas “Asal-asalan”. Jangan bekerja hanya demi tanggal gajian. Tingkatkan keterampilan Anda. Ikuti pelatihan, baca buku, atau tanyakan pada rekan kerja bagaimana Anda bisa bekerja dengan lebih efisien.
Jaga Integritas karena Kompetensi tanpa karakter adalah bencana. Pastikan keahlian yang kita bangun didasarkan pada takut akan Tuhan yaitu tidak menyontek, tidak korupsi, tidak menjatuhkan sesama dan lain-lain. Pada intinya kita harus jadi garam dan terang bagi dunia ini.
KESIMPULAN :
Saudaraku yang dikasihi Tuhan, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil atau sekuler di mata Tuhan jika dilakukan dengan segenap hati.
Di ayat berikutnya Kolose 3:24 (TB) Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.
Artinya Tuhan berjanji bahwa dari Dialah kita akan menerima bagian yang ditentukan bagi kita sebagai upah.
Mari pulang dari tempat ini dengan komitmen yang baru, Kita ingin menjadi orang Kristen yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga unggul, cakap, dan kompeten dalam setiap tanggung jawab yang Tuhan percayakan di dunia ini, dengan cara :
1. Mengubah Identitas “Majikan” kita (Melakukannya Seperti untuk Tuhan).
2. Kualitas “Segenap Hati” (Ek Psyches).
3. Kompetensi adalah Alat Kesaksian kita (Menjadi Garam dan Terang).