Kita tahu bahwa orientasi dunia ini banyak digerakkan oleh prinsip transaksi. Slogan yang sering kita dengar adalah “Apa untungnya buat saya?“. Artinya manusia cenderung menghitung setiap tenaga, waktu, dan uang yang mereka keluarkan untuk memastikan mereka mendapatkan imbalan yang sepadan.
Namun, Alkitab memberikan standar yang sangat berbeda untuk orientasi kita dalam pelayanan di dalam Komunitas Kristen. Alkitab mengingatkan kita dan seluruh pelayan Tuhan agar menjaga kemurnian hati. Pelayanan Kristen bukanlah sebuah bisnis, melainkan sebuah pengabdian yang lahir dari rasa syukur dan bukan untuk cari untung.
1 Petrus 5:2-3 (TB) “(2) Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. (3) Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.”
Saudaraku yang dikasihi Tuhan, ketahuilah bahwa melayani tanpa mencari untung itu bukan berarti kebutuhan hidup pelayan Tuhan diabaikan. Namun, ini adalah soal gaya hidup dan motivasi terdalam di hati kita. Ketika kita melayani dengan tulus, Tuhan tidak pernah menutup mata. Ingatlah bahwa Upah kita tidak berasal dari dunia ini.
1 Petrus 5:4 (TB) “Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.“
Ada 3 Prinsip Melayani Agar Terhindar dari Cari Untung :
1. Melayani dengan Sukarela, Bukan Terpaksa.
Petrus memulai dengan kalimat, “jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah”. Pelayanan yang sejati tidak lahir dari rasa bersalah, tekanan orang lain, atau sekadar formalitas organisasi.
Untuk memperkuat hal ini, Rasul Paulus menegaskan dalam Galatia 1:10 (TB) Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
Fokus pelayan kita adalah perkenanan Allah, bukan tepuk tangan manusia. Sukarela berarti kita melayani dengan sukacita sebagai respons kasih kita kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita, bukan sebagai beban atau rutinitas yang membosankan.
2. Melayani dengan Pengabdian, Bukan Mencari Keuntungan demi Pengakuan.
Poin inti dari pesan Petrus adalah “jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri”.
Kata “keuntungan” di sini (shameful gain) merujuk pada motivasi terselubung demi mendapatkan materi, uang, popularitas, pengakuan dan status sosial.
Alkitab memberikan peringatan keras mengenai bahaya ini dalam 1 Tesalonika 2:5 (TB) “Karena kami tidak pernah bermulut manis — hal itu kamu ketahui — dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi — Allah adalah saksi –”
Dalam terjemahan yg lain dikatakan : “Karena kami tidak pernah bermuka-muka dengan kata-kata rayuan, seperti kamu tahu, dan tidak pernah mempunyai maksud tersembunyi untuk mencari keuntungan; Allah adalah saksi.”
Ketika kita mengukur pelayanan dengan keuntungan materi/harta demi mendapatkan pengakuan, maka kita sedang menurunkan derajat hadirat Tuhan menjadi pasar transaksi. Pengabdian sejati berarti siap memberi dan berkorban, bahkan ketika tidak ada orang yang melihat, mengakui atau berterima kasih.
3. Melayani sebagai Teladan, Bukan Penguasa.
Petrus menutup bagian ini dengan mengingatkan agar tidak “memerintah… tetapi hendaklah kamu menjadi teladan”. Pelayan Tuhan tidak boleh memanfaatkan posisi atau otoritas mereka untuk memanipulasi orang lain demi kepentingan ego pribadi.
Tuhan Yesus sendiri memberikan standar tertinggi tentang arti sebuah pelayanan dalam Matius 20:28 (TB) sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Jika Sang Raja Semesta Alam rela mengosongkan diri-Nya dan melayani tanpa pamrih, maka kita sebagai hamba-Nya tidak memiliki hak untuk bersikap angkuh atau mencari keuntungan. Otoritas kita bukan terletak pada jabatan, melainkan pada karakter yang menyerupai Kristus.
KESIMPULAN :
Saudaraku yang dikasihi Tuhan, ada banyak pelayan Tuhan yang awalnya tulus, perlahan mulai “menjual” urapan, karunia, dan waktu pelayanan mereka demi mendapatkan keuntungan materi, pujian, dan eksistensi diri. Ketika fokus kita beralih ke keuntungan pribadi, maka “cahaya” pelayanan kita akan padam, dan jemaat yang seharusnya kita tuntun justru akan tersesat dan terluka.
Mari kita periksa kembali hati kita hari ini. Bersihkan pelayanan kita dari motivasi mencari untung, dan kembalilah melayani dengan pengabdian yang murni yaitu :
1. Melayani dengan Sukarela, Bukan Terpaksa.
2. Melayani dengan Pengabdian, Bukan Mencari Keuntungan demi Pengakuan.
3. Melayani sebagai Teladan, Bukan Penguasa.