1 Korintus 3:10-15 (TB) 

 “Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.

1 Korintus pasal 3 ini menegur dan mengoreksi perpecahan di gereja Korintus. Pasal ini dimulai dengan menegaskan bahwa gereja yang terpecah adalah gereja duniawi. Pikiran duniawi orang-orang Korintus terungkap karena mereka memihak kepada pemimpin favorit mereka. Tetapi para pemimpin itu hanyalah hamba-hamba manusia biasa yang melalui mereka Tuhan bekerja.

Iman orang percaya didasarkan kepada Alkitab, iman orang percaya tidak didasarkan kepada pemikiran-pemikiran manusia, siapa pun dia, dan betapa pun ahlinya dia, karena Alkitab diinspirasikan oleh Roh Kudus. Penulis-penulis Alkitab digerakkan dan dipimpin oleh Roh Kudus untuk menuliskan apa yang Tuhan nyatakan.

Ayat hari ini bicara tentang pentingnya membangun hidup di atas dasar yang benar yaitu Yesus Kristus. Setiap tindakan dan keputusan yang diambil di dalam Kristus adalah bagian dari pembangunan kehidupan kita. Kita diajak untuk membangun hidup dengan bahan-bahan yang berkualitas dan murni dihadapan Allah seperti emas, perak dan batu permata yang dimurnikan dengan api sebagai symbol abadi dan berharga. Sama seperti sebuah bangunan yang kuat fondasinya, maka gedung itu akan kokoh. Demikian pula kehidupan kita memerlukan dasar yang kuat bagi iman percaya kita, yaitu Yesus Kristus.

Perjalanan tahun ini masih panjang, kiranya kita tetap bertambah teguh dalam iman kepada Tuhan dan dalam pelayanan bagi semua. Ya, bertambah teguh dalam panggilan pelayanan dan kesaksian. Itulah pula yang menjadi komitmen kita semua dalam tanggungjawab  mempersiapkan pelayanan yang luar biasa di tahun ini. Karena itu, mari kita bersyukur dan mendoakan selalu Gereja Oikos Bogor bersama semua jemaat dan pelayan agar menjadi berkat bagi Tuhan dan sesama.

Kalau dengar kata “pelayanan”, sering kali yang terlintas di pikiran kita adalah kegiatan di gereja yaitu jadi singer, pemusik, usher, guru sekolah minggu dan lain-lain. Tapi sebenarnya, pelayanan bukan cuma soal aktivitas di balik mimbar atau didalam gereja.

Ini yang sering kita lupakan: pelayanan sejati bukan soal di mana, tapi soal bagaimana kita memperlakukan orang lain setiap hari. Misalnya:

  • Saat kita sabar menjawab pertanyaan anak yang kritis, itu pelayanan.
  • Saat kita membantu teman kerja tanpa pamrih, itu pelayanan.
  • Saat kita memilih untuk tetap baik meski diperlakukan tidak adil, itu pelayanan.
  • Bahkan saat kita menyapa orang dengan tulus atau mendengarkan curhatan teman, itu pun bentuk pelayanan yang berarti.

Pelayanan sejati tidak selalu besar, tidak selalu berada di atas ‘panggung’ atau dilihat, dan tidak selalu dihargai oleh manusia. Tapi Tuhan melihat semuanya dan Ia memperhitungkannya. Melayani itu bukan karena kita hebat, tapi karena kita mengasihi. Dan kasih yang sejati tidak memandang status, posisi, atau tempat. Ia mengalir dari hati yang mau memberi, walau tak mendapat balasan, tak dapat apresiasi atau tak dapat ucapan terima kasih.

Sudahkah kita hidup sebagai pribadi yang melayani di manapun berada? Karena hidup yang mau melayani adalah hidup yang mencerminkan Yesus dan itulah hidup yang berdampak.

Kolose 3:23 (TB)  Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

FONDASI PELAYANAN SEJATI :

1.  Menerima Panggilan Allah.

Di seluruh tulisan para rasul, kata benda Yunani “klesis” yang berarti “panggilan” digunakan untuk merujuk pada “panggilan” khusus yang berasal dan bersifat di dalam Allah. (Ef 1:18, Fil 3:14, 2 Tim 1:9, 2 Petrus 1:10). Kata ini digunakan dalam arti umum panggilan kita untuk penebusan, tetapi juga diterapkan dalam arti khusus dalam bentuk kata kerja (kletos) untuk panggilan seseorang ke pelayanan tertentu, misalnya Roma 1:1

Seperti contoh Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 13:2, kita harus tahu bahwa kita dipanggil oleh Allah dan untuk apa yang kita dipanggil untuk lakukan. Otoritas berasal dari mengetahui Siapa yang telah memanggil kita, dan apa yang telah memanggil kita untuk kita lakukan. Masalah muncul dari menganggap diri kita sebagai orang yang dipanggil Tuhan dan tidak membawa otoritas Allah untuk melakukannya seperti kisah anak-anak skewa.

Kita perlu mengetahui bahwa kita diurapi dan “ditunjuk” untuk pelayanan kita. Dalam 2 Timotius 1:11 Paulus berkata, “Aku telah ditunjuk sebagai pemberita, rasul, dan pengajar.” Kita tidak boleh menjadi nabi atau rasul yang “menunjuk diri sendiri” atau memajukan karunia pelayanan atau promosi diri kita sendiri.

Nasihat Alkitab mengenai panggilan kita meliputi: Mengidentifikasi panggilan kita tidak didasarkan pada kebijaksanaan manusia, kecerdasan, bakat alami, atau kekuatan (1 Korintus 1:26-29). Kita harus berjalan (hidup) dengan cara yang “layak bagi panggilan kita” dalam segala “kerendahan hati dan kelembutan dengan kesabaran” (Efesus 4:1-2). Adalah kewajiban kita untuk mengejar dan “berusaha mencapai” “panggilan yang tinggi” itu dengan penuh semangat dan antusiasme (Filipi 3:14). Jadilah pengelola yang baik atas panggilan itu, bekerja “dengan tekun” untuk memperkuatnya, mengembangkannya, dan memeliharanya untuk kemuliaan Allah (2 Petrus 1:10).

2. Memiliki Karakter Yang Saleh.

Karakter yang saleh adalah fondasi dasar dari pelayanan sejati. Karakter yang kurang saleh, membuat kita tidak mampu melayani dan menentukan pada tingkat apa kita melayani. Kriteria alkitabiah untuk penatua dan diaken sebagian besar berkaitan dengan masalah karakter. Apa yang dapat dibangun oleh karisma yang kuat dapat dihancurkan oleh kurangnya karakter.

Pelayanan adalah curahan dari hidup kita. Pelayanan dimulai bukan dari apa yang kita katakan atau lakukan, tetapi dari siapa diri kita. Tuhan lebih bermaksud menjadikan kita sebagai pesan daripada memberi kita pesan untuk disampaikan. “Pesan hidup” diri kita akan datang sebagai totalitas dari pengalaman hidup, kegagalan, dan keberhasilan kita serta tanggapan terhadapnya. Pelayanan adalah kebenaran melalui kepribadian karakter kita. Seorang pelayan tidak terlepas dari pesannya. Kita menyampaikan siapa diri kita, bukan apa yang akan kita katakan.

Karakter adalah sesuatu yang dibentuk dalam diri kita (bukan anugerah atau warisan). Karakter dibentuk oleh: Didikan yang saleh (2 Tim 1:3-5), Disiplin dan koreksi (Ibr 12:5-11), Ujian berat, tekanan (1 Petrus 4:12; Rom 5:3-4), Kepekaan dan ketaatan kepada Tuhan dan firman-Nya, Pemuridan dan bimbingan. Bukti karakter yang saleh tidak hanya terlihat dalam kehidupan pelayanan, tetapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari.

3. Isi yang Berbobot.

Yang dimaksud dengan “isi” adalah hikmat, pengetahuan, dan wawasan yang diperoleh melalui pengalaman, studi, dan pelatihan. Seseorang mungkin memiliki karakter yang saleh, tetapi selain teladan yang baik, ia hanya memiliki sedikit hal untuk disampaikan atau dikatakan yang dapat disebut pelayanan. Beberapa orang mengejar pelayanan karena semangat semata; yang lain berorientasi pada prestise dan kekuasaan posisi tersebut, sementara mereka tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk disampaikan.

Tidak ada karunia kedewasaan secara instan dan tidak ada yang bisa gantikan kebijaksanaan yang datang dari pengalaman bertahun-tahun. Hal-hal itu tumbuh melalui pembelajaran dan pengalaman rohani dan kehidupan. Sebagian besar tokoh Alkitab yang hebat menghabiskan bertahun-tahun persiapan untuk mendapatkan “isi yang berbobot” dalam kehidupan “pelayanan” mereka. Pelayanan perdana Yusuf dikembangkan dalam 14 tahun keadaan yang sulit. Musa menghabiskan 40 tahun di padang gurun untuk mempersiapkan diri memimpin Israel dalam 40 tahun mereka di padang belantara. Paulus menghabiskan 14 tahun dalam ketidakjelasan sebelum Tuhan menjadikannya ke dalam kerasulannya.

4. Menggunakan Karisma dengan Benar.

Bahasa Yunani “karisma” secara harfiah berarti “kasih karunia”. Kata Yunani untuk “kasih karunia” yang menjadi asal katanya adalah “charis”. Kharisma bukanlah temperamen, melainkan kemampuan yang diberikan Tuhan untuk mempengaruhi orang lain. Kharisma dalam menarik perhatian, mempengaruhi, dan membujuk. Kata Yunani untuk “pengurapan” adalah “kharisma” dari kata “chiro” yang berarti menggosok. Kharisma adalah “pengurapan” Tuhan pada tubuh kedagingan manusia. Minyak urapan Perjanjian Lama adalah minyak aromatik yang menarik yang menjadi simbol kekuatan pengurapan Roh Kudus untuk menarik dan mempengaruhi orang lain.

Karisma tidak didasarkan pada karakter atau kinerja kita, tetapi didasarkan pada kasih karunia Allah yang tidak layak kita terima dan kehendak-Nya sendiri untuk menganugerahi kita dengan itu. Karena karisma tidak didasarkan pada kinerja kita, atau kelayakan untuk menerimanya, beberapa orang yang telah diurapi demikian mampu terus berfungsi dalam pelayanan mereka meskipun memiliki sifat-sifat karakter yang tidak saleh dan sangat duniawi.

Namun apa yang dapat dibangun oleh karisma dengan model seperti itu bahkan juga dengan isi yang berbobot sekalipun, maka itu semua dapat dihancurkan oleh kurangnya karakter. Contohnya Raja Saul, dia jauh lebih unggul dari semua rekan-rekannya, dia sangat menarik dan menawan, tetapi kurangnya karakter dia itu merusak pengurapan kerajaannya. Simson sangat dikaruniai karisma, tetapi sangat kurang dalam kebijaksanaan dan karakter sehingga ia mempermainkan karunianya, yang menyebabkan kejatuhannya sendiri. Beberapa orang berpikir bahwa selama karunia mereka “berfungsi”, Tuhan memaafkan kurangnya karakter saleh mereka. Sejarah baru-baru ini menunjukkan kepada kita bahwa pada akhirnya kelebihan atau kharisma seseorang akan menjatuhkan mereka secara pribadi dan juga membawa aib/cela bagi tubuh Kristus secara umum. Makanya kita harus menggunakan kharisma dengan benar sesuai dengan kedewasaan karakter kita.

5. Menggunakan Kapasitas yang Sesuai.

Kapasitas mencakup mengetahui apa yang menjadi karunia kita, sejauh mana karunia itu dimiliki, dan bagaimana kita harus berfungsi dalam karunia tersebut. Ini juga mencakup mengetahui apa kekuatan dan kelemahan kita dalam bidang pelayanan yang telah Tuhan panggil kita untuk lakukan.

Kapasitas berkaitan dengan beragamnya cara Allah menganugerahi kita masing-masing untuk berfungsi pada berbagai tingkatan dan derajat dalam pengurapan dan karunia kita. Dalam 1 Korintus 12:4-6, Rasul Paulus berbicara tentang “keragaman” dan “perbedaan” dan “karunia” (jamak), “pelayanan” dan “aktivitas” (NKJV) dalam ranah Roh Kudus. Karunia pelayanan rohani yang serupa dapat diekspresikan secara berbeda pada orang yang berbeda. Misalnya, ada perbedaan antara mampu bernubuat dan menjadi seorang nabi, dan di antara para nabi, dan ekspresi karunia nubuat terdapat berbagai tingkatan otoritas, pengurapan, dan fungsi.

Dalam Roma 12:3-8, Rasul Paulus menunjukkan bahwa karunia rohani diberikan dalam berbagai “ukuran” dan “proporsi” kepada individu yang berbeda. Kata Yunani untuk “ukuran” adalah “metron“, yang berarti “cawan pengukur” atau “ukuran yang ditentukan, diukur secara proporsional”. “Ukuran” itu ditentukan oleh Tuhan. Kita ditantang untuk berfungsi sepenuhnya sesuai dengan potensi dan kemampuan kita di dalam Tuhan, apa pun karunia atau pelayanan kita. Di satu sisi, kita diperingatkan untuk tidak melebih-lebihkan kemampuan kita dan untuk “dengan bijaksana” memperkirakan ukuran karunia kita, tidak berpikir “lebih tinggi tentang diri kita sendiri daripada seharusnya”. Di sisi lain, kita juga harus “berakal sehat” dalam hal memperkirakan fungsi kita, 2 Tim 1:6-7. Ini adalah nasihat untuk menggunakan kemampuan kita dan tidak takut atau ragu-ragu dalam menjalankan karunia kita sepenuhnya. Paulus menasihati kita untuk melayani “sesuai dengan…kasih karunia…sebanding dengan iman kita.” Kita harus berfungsi sesuai dengan kasih karunia dan iman yang kita miliki, bukan sesuai dengan harapan orang lain.

Untuk kita bisa menghasilkan pelayanan yang luar biasa di tahun ini maka kita perlu memiliki fondasi dan landasan pelayanan yang sejati itu maka pelayanan kita tidak akan sia-sia. Mari kita terus hidup dalam fondasi pelayanan yang sejati, dengan :

1. Menerima Panggilan Allah.

2. Memiliki Karakter Yang Saleh.

3. Isi yang Berbobot.

4. Menggunakan Karisma dengan Benar.

5. Menggunakan Kapasitas yang Sesuai.

Author admin