Banyak dari kita yang berpikir bahwa Tuhan hanya memakai orang-orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata atau pintar, kaya dan kuat saja untuk Ia pakai sebagai kemuliaanNya. Lalu, kita yang merasa diri sebagai orang yang biasa-biasa saja dan tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, menjadi rendah diri dan merasa tidak layak di hadapan Tuhan. Pikiran seperti itu yang membuat kita tidak bisa memiliki kebangunan rohani di dalam diri kita dan akibatnya kita tidak pernah bisa dewasa rohaninya.
1 Korintus 1:27-29 (TB) “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.”
Jika kita mengetahui latar belakang para murid Yesus, mungkin kita tidak akan percaya bahwa mereka adalah rasul-rasul luar biasa yang dipakai Tuhan yang berasal dari orang-orang biasa yang bahkan seharusnya tidak layak menjadi rasul-rasul Tuhan. Pada saat Tuhan Yesus memanggil kedua belas muridnya itu, Dia memanggil orang-orang biasa itu dari berbagai kalangan, status dan usia.
Simon Petrus dan saudaranya Andreas, kemudian Yakobus anak zebedeus, Yohanes anak zebedeus juga, dia dianggap sebagai murid yang paling dikasihi Tuhan Yesus. Nah mereka berempat itu dari kalangan nelayan. Kemudian Filipus seorang biasa yang cermat tapi lambat dalam mengambil keputusan. Natanael/Bartolomeus adalah orang yang cerdas namun terkenal sering menyombongkan dirinya sendiri. Tomas/Didimus si peragu. Matius si pemungut cukai (penagih hutang), profesi yang tidak disukai oleh orang Yahudi saat itu. Kemudian Yakobus anak Alfeus, yang berbadan kecil dan berusia paling muda (kemungkinan berusia sekitar 19-23 tahun) dianggap penulis kitab yakobus. Tadeus yg dikenal juga dengan nama yudas yakobus, seorang biasa yang paling pasif dalam tim Yesus. Simon orang Zelot yang berkarakter keras mewakili kaum pemberontak. Dan terakhir Yudas Iskariot, sang bendahara yang korup dan pelit yang mengkhianati Yesus.
Murid-murid Yesus itu bukanlah orang yang seharusnya layak masuk dalam daftar murid Yesus untuk melayani. Namun itulah hebatnya jika memiliki guru dan mentor seperti Tuhan Yesus. Mereka pun diubah menjadi orang-orang luar biasa yang mengguncangkan dunia dengan injil Kristus kecuali yudas iskariot bunuh diri yang pada akhirnya diganti oleh Matias.
David Agner berkata, “Pekerjaan Allah sering kali dilakukan oleh orang-orang yang kita anggap tak layak dari tempat yang tak layak pula, yakni seperti Anda dan saya. Untuk mencapai keberhasilan, kita harus mengikuti Dia yang dapat menjadikan kita penjala manusia.”
Kita semua adalah murid Yesus di akhir zaman ini. Dia memilih kita untuk melayani Tuhan, bukan karena kita lebih baik dan lebih hebat dari orang lain. Namun, Dia ingin memakai kita yang biasa-biasa untuk menyatakan kuasa-Nya yang luar biasa. Banyak orang kristen masih menolak untuk melayani Tuhan karena berpikir tidak bisa berkhotbah, berdoa, menyanyi dan lain sebagainya. Ketahuilah bahwa setiap kita memiliki karunia rohani dan talenta yang berbeda-beda. Ladang pelayanan ini begitu luas, kita dapat melayani di area yang sesuai dengan kekuatan dan kemampuan kita. Apakah Anda masih bimbang untuk melayani Tuhan?
Bila Anda masih bimbang, maka tidak akan dapat memiliki kebangunan rohani sehingga rohanimu tidak akan dewasa. Ini kondisi rohani yang sangat berbahaya untuk kita hidup di akhir jaman ini.
Apa yang harus kita lakukan sebagai orang-orang biasa untuk menjadi orang-orang yang luar biasa didalam Tuhan?
1. Merangkul Kelemahan sebagai Kesempatan bagi Kuasa Tuhan.
Orang percaya didorong untuk melihat keterbatasannya bukan sebagai penghalang tetapi sebagai kesempatan bagi Tuhan untuk menunjukkan kekuatan-Nya.
2. Menolak Kesombongan dan Kemandirian.
Hal ini mengingatkan kita orang Kristen untuk bergantung pada Tuhan daripada kepada kemampuan atau pencapaian prestasi kita sendiri.
3. Menemukan Harapan dalam Panggilan Tuhan.
Mereka yang menghadapi harga diri rendah, merasa tidak diinginkan, tidak berharga, tidak penting atau tidak mampu maka dapat menemukan dorongan dalam mengetahui bahwa Tuhan sering memilih yang Hina bagi manusia itu untuk memenuhi tujuan-tujuan pekerjaan muliaNya.
4. Mengutamakan Hikmat Allah di Atas Standar Duniawi.
Hal ini menantang kita orang percaya untuk menghargai perspektif pandangan Allah, yang seringkali bertentangan dengan harapan dan bahkan tujuan dari masyarakat. Kitab Suci mengatakan , “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang ; …..” Yakobus 1:17 (TB).
5. Hidup Bertujuan untuk Memuliakan Tuhan.
Menyadari bahwa semua kesuksesan berasal dari Tuhan. Ini menumbuhkan rasa syukur dan kerendahan hati, serta mengarahkan kita kepada kebesaran dan kehebatan-Nya.
KESIMPULAN :
Panggilan Allah untuk melayani Tuhan itu tidak didasarkan pada kualifikasi manusia, melainkan pada tujuan-Nya yang berdaulat. Hal ini mendorong kita yang merasa tidak mampu untuk percaya pada kemampuan Allah yang bekerja melalui kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyelaraskan upaya kita, dengan memulai dari mana pun kita berada, dan dengan apa pun yang kita miliki, serta melakukan apa pun yang kita bisa, sesuai dengan kehendak-Nya, dan Dia akan memampukan kita.
Pada akhirnya, inilah yang membuat kita orang-orang biasa memiliki kebangunan rohani didalam diri kita sehingga kita menjadi orang-orang yang luar biasa dan mengalami kedewasaan rohani dengan selalu sadar untuk melakukan yaitu :
1. Merangkul Kelemahan sebagai Kesempatan bagi Kuasa Tuhan.
2. Menolak Kesombongan dan Kemandirian.
3. Menemukan Harapan dalam Panggilan Tuhan.
4. Mengutamakan Hikmat Allah di Atas Standar Duniawi.
5. Hidup Bertujuan untuk Memuliakan Tuhan.