Kemerdekaan didalam Kristus menuntut kita untuk merdeka dari kenyamanan kita karena mengikut Yesus itu berarti siap meninggalkan zona nyaman, karena ada kalanya Tuhan menyuruh kita keluar dari zona nyaman tersebut untuk masuk ke dalam rencanaNya.
Kenyamanan bukanlah sesuatu yang salah, tetapi kenyamanan bisa menjadi masalah ketika membuat kita tidak lagi mao mengikuti kehendak Tuhan dalam hidup kita.
Lukas 9:57-58 (TB) Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
Banyak orang Kristen membayangkan mengikut Yesus seperti berjalan di atas karpet merah yang bertabur fasilitas. Kita sering menyamakan berkat Tuhan hanya dengan kenyamanan hidup yaitu keuangan yang mapan, kesehatan yang prima, dan hidup tanpa masalah.
Namun, dalam teks ayat kita hari ini, Yesus memberikan respons yang mengejutkan kepada seseorang yang dengan penuh semangat berkata, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”
Tetapi Yesus tidak langsung menjawab, “Bagus, ikutlah Aku.”
Yesus justru menjelaskan harga dari sebuah pengikutan, dengan berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
Seolah-olah Yesus berkata:
“Kalau kamu mau mengikut Aku, jangan mengira perjalanan ini selalu nyaman.”
Seperti ilustrasi : “Sistem Operasi dan Update Fitur Baru”. Bayangkan bila Anda baru saja membeli sebuah laptop atau smartphone baru dengan sistem operasi (Operating System/OS) versi terbaru. Di awal pemakaian, gawai tersebut terasa sangat nyaman, cepat, dan semua aplikasi berjalan lancar. Anda sangat puas dan merasa berada di “zona nyaman” dengan performa gawai tersebut. Namun, beberapa bulan kemudian, muncul notifikasi di layar: “Pembaruan Sistem Tersedia (System Update Required).”
Untuk melakukan update ini, ada harga yang harus dibayar yaitu :
– Anda harus mengorbankan kuota internet dan ruang penyimpanan (storage).
– Anda harus merelakan waktu Anda karena gawai akan mengalami restart, menjadi panas, dan tidak bisa digunakan selama proses update berlangsung (sangat tidak nyaman).
– Anda harus beradaptasi dengan tampilan baru yang awalnya terasa asing dan membingungkan.
Apa yang terjadi jika Anda memilih kenyamanan dan terus-menerus menekan tombol “Remind Me Later” (Ingatkan Nanti) karena malas menghadapi ketidaknyamanan proses update?
Awalnya mungkin terasa baik-baik saja. Namun lama-kelamaan, laptop atau HP Anda akan mulai lemot. Aplikasi-aplikasi baru tidak akan bisa berjalan (crash), dan sistem keamanannya menjadi sangat rentan terhadap serangan virus. Gawai Anda gagal berfungsi maksimal karena Anda menolak ketidaknyamanan sebuah update.
Demikian juga dengan kerohanian kita, banyak dari kita memperlakukan iman kita seperti gawai yang menolak update. Kita ingin tetap berada di “sistem operasi” yang lama karena itu sudah nyaman bagi kita.
Ketika Tuhan memberikan “notifikasi” agar kita naik level—misalnya tantangan untuk jujur dalam laporan keuangan (saat semua orang memanipulasinya), tantangan untuk menegur teman yang bergosip, atau tantangan memimpin komsel di tengah kesibukan sekolah atau kuliah dan target kerja—kita sering menekan tombol “Remind me later, Tuhan. Nanti saja kalau saya sudah sukses, nanti saja kalau saya sudah santai.”
Kita menolak proses update dari Tuhan karena proses itu membuat hidup kita “panas”, menyita waktu, dan tidak nyaman.
Akibatnya?
Kerohanian kita menjadi stagnan, lemot, rentan jatuh ke dalam dosa, dan kita tidak pernah bisa menjalankan karunia dan urapan Tuhan yang sudah Tuhan tanam dalam hidup kita.
Ingatlah bahwa mengikut Yesus adalah proses update rohani yang terus-menerus. Jangan biarkan kenyamanan hari ini membuat iman Anda menjadi usang/kuno dan tidak berdampak di tempat kerja, sekolah atau lingkungan Anda.
Iman bukan hanya tentang percaya kepada Tuhan ketika semuanya nyaman, tetapi tetap mengikuti Tuhan ketika keadaan tidak nyaman.
Ada 3 cara yang perlu dilakukan untuk kita Merdeka dari Kenyamanan :
1. Waspadai kenyamanan itu bisa menjadi penjara rohani (rohaninya tidak berkembang).
Ketika Yesus berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Ayat 58),
Yesus itu sedang menunjukkan realitas pelayanan-Nya, Yesus tidak mengikatkan diri-Nya pada kenyamanan duniawi.
Keinginan yang berlebihan akan kenyamanan (zona nyaman) sering kali membuat kita menolak panggilan Tuhan.
Kita jadi enggan melayani jika mengorbankan waktu istirahat, kita enggan memberi jika mengganggu kestabilan keuangan, dan kita enggan menegakkan kebenaran jika itu merusak reputasi kita.
Lukas 9:23 (TB) Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
Menyangkal diri dan memikul salib adalah lawan kata dari mencari kenyamanan. Ini adalah syarat mutlak menjadi pengikut Yesus.
Filipi 3:7-8 (TB) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
Rasul Paulus melepaskan semua kenyamanan status sosial, fasilitas, dan reputasinya demi mengikut Yesus, yang dulu dia anggap suatu keuntungan karena merupakan sumber identitas, kebanggaan dan keamanan untuk dia.
Tapi menariknya, Paulus tidak merasa bahwa semua itu sebagai sebuah kerugian, karena ia menemukan bahwa Kristus jauh lebih berharga daripada apapun yang ia lepaskan.
2. Hati-hati bahaya terlena dalam zona nyaman.
Ini menjadi peringatan bagi jemaat bahwa kenyamanan hidup kita bisa membuat rohani kita tertidur dan menjauh dari Tuhan.
Sering kali bukan dosa besar yang membuat seseorang berhenti bertumbuh. Kadang-kadang yang membuat kita berhenti bertumbuh itu adalah : “Saya sudah sangat nyaman.”
Amos 6:1a (TB) “Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, …..”
Tuhan mengecam orang-orang yang terlalu nyaman dengan situasi mereka sehingga menjadi puas diri dan mati rasa secara rohani.
Wahyu 3:17 (TB) Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,…
Teguran kepada jemaat Laodikia yang terlena oleh kenyamanan materi, namun sebenarnya mengalami kebangkrutan rohani.
Masyarakat perkotaan sering terjebak dalam kenyamanan FOMO (Fear of Missing Out) dan budaya konsumtif demi dianggap “setara” dengan lingkungan mereka (nongkrong di kafe mahal, ganti gadget terbaru, atau liburan demi estetika media sosial).
Belajarlah untuk membatasi pengeluaran yang hanya demi gengsi. Alihkan dana “kenyamanan ego” tersebut untuk menabur bagi pekerjaan Tuhan, misi, atau membantu sesama yang kekurangan. Memang kita sangat menghargai financial security. Sering kali kita baru merasa aman jika saldo tabungan atau investasi kita aman. Kita takut memberi persepuluhan atau berkorban secara finansial karena takut kenyamanan masa depan kita terganggu. Ketaatan finansial adalah ujian apakah kita menyembah Tuhan atau menyembah kenyamanan uang. Praktekkan memberi dengan rela (Persepuluhan dan persembahan/kolekte). Belajarlah memercayakan masa depan pada Tuhan, bukan pada angka tabungan di rekening bank.
3.Membayar harga dari sebuah komitmen mengikut Tuhan.
Mengikut Yesus itu berarti kita siap juga dipimpin ke tempat-tempat yang tidak nyaman yaitu tempat di mana ego kita harus dimatikan, kesabaran kita diuji, dan kenyamanan kita dikorbankan demi pekerjaan Tuhan.
Merdeka dari kenyamanan bukan berarti kita harus mencari penderitaan. Bukan berarti: “Kalau hidup susah berarti lebih rohani.” Yang dimaksud adalah: kita tidak lagi diperbudak oleh rasa nyaman. Kita tetap bisa menikmati berkat Tuhan, tetapi kita tidak menjadikan kenyamanan sebagai tujuan utama hidup kita.
Ulangan 32:11 (TB) Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya.
Sering kali, Tuhan mengizinkan situasi yang tidak nyaman terjadi dalam hidup kita (melalui masalah, tantangan pelayanan, atau pergumulan). Tuhan bukan ingin menghancurkan kita, tetapi Dia sedang membongkar “zona nyaman” kita agar iman kita bertumbuh, rohani kita maju, dan kita tidak menjadi Kristen yang manja.
Masyarakat kota cenderung individualis. Sengaja memilih datang ke gereja besar, duduk di dalam AC yang dingin, mendengarkan khotbah yang bagus, lalu pulang tanpa mengenal siapa pun karena jumlah jemaatnya terlalu banyak, ini adalah kenyamanan tertinggi. Tidak suka terlibat dalam komunitas sel (komsel) atau melayani karena itu dinilai “merepotkan” karena harus mencocokkan jadwal dan menghadapi gesekan karakter orang lain.
Ingatlah bahwa Pertumbuhan iman tidak terjadi dalam kesendirian yang nyaman, tetapi dalam persekutuan yang nyata dengan yg lain. Masuklah ke dalam kelompok sel di gereja.
Berhentilah menjadi “jemaat penonton”. Mulailah mendaftar menjadi relawan (volunteer) di gereja—baik itu menjadi usher, tim pw, multimedia, guru sekolah minggu, atau tim yg lainnya—meskipun itu berarti Anda harus bangun lebih pagi di hari Minggu saat orang lain sedang tidur nyenyak.
Yakobus 1:2-3 (TB) “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”
Ujian yang tidak nyaman tidak boleh dihindari melainkan dihadapi, kita harus berani meninggalkan zona nyaman kita, harus berani menghadapi ketidakpastian, berani taat sebelum melihat hasil, karena semua itu akan menghasilkan ketekunan dan kematangan iman kita.
KESIMPULAN :
Mari periksa hidup kita : Apakah kita hanya mau mengikut Yesus saat semuanya berjalan lancar dan nyaman? Janganlah kita hanya baru sekedar mengagumi Tuhan dari zona nyaman kita.
“Jangan sampai kenyamanan yang Tuhan berikan kepada kita justru membuat kita tidak nyaman ketika Tuhan memanggil kita untuk melangkah, karena mengikut Yesus bukan berarti memilih jalan yang paling nyaman, tetapi memilih jalan yang paling sesuai dengan kehendak-Nya.”
Ambillah komitmen hari ini untuk merdeka atau keluar dari zona nyaman : mulailah melayani dengan benar dan sungguh-sungguh, mulailah mengampuni yang bersalah, dan jadilah saksi Kristus di tempat yang paling menantang sekalipun.
Kemerdekaan rohani dicapai saat kita tidak lagi disandera oleh fasilitas duniawi. Ketika kita berkata siap mengikut Yesus, kita harus siap merdeka dari kenyamanan, dengan cara :
1. Waspadai kenyamanan itu bisa menjadi penjara rohani (rohaninya tidak berkembang).
2. Hati-hati bahaya terlena dalam zona nyaman.
3. Membayar harga dari sebuah komitmen mengikut Tuhan.