Di era digital sekarang ini, saat kita belanja online, ada sistem yang sangat disukai banyak orang, yaitu sistem masuk keranjang dulu. Banyak orang memasukkan barang ke keranjang belanja, tetapi tidak pernah menekan tombol “Beli”. Mengapa? Karena mereka ingin menjaga agar semua opsi pilihan itu tetap terbuka. Mereka takut jika mereka berkomitmen membeli sekarang, besok akan ada diskon yang lebih besar atau barang yang lebih bagus. Inilah gambaran iman orang kristen yang uncommitment (tidak berkomitmen).
Banyak orang Kristen memperlakukan Tuhan Yesus seperti keranjang belanja online. Kita menaruh Dia di dalam hidup kita, tetapi kita tidak pernah mau “Check Out” atau berkomitmen penuh. Kita berkata, “Saya mau ikut Tuhan, tapi kalau nanti ada tawaran dunia yang lebih menguntungkan, saya mau opsi pilihan itu tetap terbuka.”
Tuhan menantang kita hari ini. Berhenti menunda, segera lakukan “Check Out” rohani Anda sekarang, dan berkomitmenlah penuh kepada TUHAN!
Kemerdekaan sejati di dalam Kristus bukan berarti bebas melakukan apa saja tanpa batas, melainkan kebebasan untuk berkomitmen penuh kepada kebenaran Firman Tuhan.
1 Raja-raja 18:21 (TB)Â “Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.” Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah kata pun.”
Latar belakang dari ayat yang kita baca ini, kita berada dalam konteks konfrontasi besar di Gunung Karmel. Bangsa Israel saat itu berada di bawah pemerintahan Raja Ahab dan Ratu Izebel yang membawa penyembahan berhala (Baal) ke dalam pusat kehidupan bangsa.
Kondisi rohani bangsa Israel digambarkan oleh Elia dengan kata “timpang” dan “bercabang hati”. Dalam bahasa aslinya, kata “timpang” (piseah) merujuk pada gerakan melompat-lompat seperti burung atau orang yang pincang. Mereka tidak sepenuhnya meninggalkan TUHAN (Yahweh), tetapi mereka juga tidak mau melepaskan Baal (penyembahan berhala).
Mereka ingin berkat dari TUHAN, tetapi juga menginginkan kesenangan duniawi dari ritual Baal (penyembahan berhala). Ketika Elia memberikan pilihan yang tegas, respons rakyat sangat tragis: “Rakyat itu tidak menjawabnya sepatah kata pun.” Mereka memilih diam karena diam aman. Diam berarti mereka tidak perlu berkomitmen.
Di era modern ini, kita sering terjebak dalam penyakit rohani yang disebut uncommitment—sebuah kondisi di mana kita enggan mengikatkan diri, selalu menjaga opsi tetap terbuka, dan hidup dalam wilayah abu-abu. Firman Tuhan hari ini menantang kita untuk mengambil keputusan tegas: berhenti hidup bercabang hati dan merdeka dari ketidakberkomitmenan, untuk mengikut Tuhan secara radikal.
Mengapa banyak orang Kristen hari ini masih mengalami uncommitment dalam kerohaniannya?
ADA 3 JEBAKAN “UNCOMMITMENT” DI ERA MODERN INI :
1. Fear of Missing Out (FOMO): Takut kehilangan kesenangan dunia jika terlalu berkomitmen pada Tuhan.
2. Kehidupan Dua Wajah: Menjadi “orang suci” di hari Minggu, namun menjadi “orang asing bagi Tuhan” dari Senin hingga Sabtu.
3. Hati yang Mendua: Menginginkan keselamatan dari Kristus, namun tetap memegang kendali penuh atas hidup, uang, dan masa depan sendiri.
Bagaimana kita bisa merdeka dari uncommitment dan hidup dalam komitmen yang berkemenangan?
ADA TIGA LANGKAH MERDEKA DARI KETIDAKBERKOMITMENAN :
1. Berhenti Berdiri di Dua Perahu (Mengambil Keputusan Tegas).
Elia berkata, “Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.”
Tuhan tidak menyukai wilayah abu-abu. Dalam Wahyu 3:16, Tuhan dengan keras menegur jemaat yang “suam-suam kuku”.
Kita harus memilih. Kita tidak bisa mengikut Yesus sambil terus memelihara dosa tersembunyi. Kemerdekaan dimulai saat kita berani berkata “Ya” untuk Tuhan dan “Tidak” untuk kedagingan.
Bayangkan seseorang yang sedang berada di dermaga. Kaki kanannya menginjak Perahu A (perahu pelayanan dan ibadah), sedangkan kaki kirinya menginjak Perahu B (perahu kesenangan dunia dan dosa tersembunyi). Selama kedua perahu itu masih merapat di dermaga, orang ini kelihatan aman-aman saja. Dia bisa menikmati kenyamanan dari kedua perahu tersebut. Namun, apa yang terjadi ketika arus air mulai datang dan kedua perahu itu mulai bergerak saling menjauh? Orang tersebut pasti akan kehilangan keseimbangan, menjadi timpang, dan akhirnya jatuh terperosok ke dalam air.
Kata “timpang” yang dipakai Elia dalam 1 Raja-raja 18:21 ini, secara harfiah berarti melompat-lompat pincang karena tidak punya pijakan yang pasti.
Banyak dari kita mencoba menyeimbangkan hidup di dua perahu: hari Minggu di perahu Tuhan, hari Senin-Sabtu di perahu dunia.
Firman Tuhan mengingatkan kita hari ini, saat badai hidup datang, fondasi yang mendua ini akan hancur. Pilih satu perahu yang pasti, yaitu Tuhan Yesus, dan melangkah penuh ke dalamnya.
2. Menghancurkan “Mezbah-Mezbah” Palsu.
Sebelum api Tuhan turun, Elia terlebih dahulu memperbaiki mezbah TUHAN yang telah runtuh (di ayat 30). Uncommitment sering terjadi karena mezbah hati kita dipenuhi oleh berhala modern : karier, kenyamanan, atau ego.
Periksa kembali apa yang paling banyak menyita hidup kita mungkin waktu, pikiran, dan hobby kita. Jika ada sesuatu yang menggeser posisi Tuhan sebagai yang utama, hancurkan berhala itu dan bangun kembali mezbah doa dan penyembahan kita kepada Tuhan.
Di kalangan anak muda atau dunia relasi modern, ada istilah “HTS” atau Hubungan Tanpa Status. Dua orang berjalan bersama, menikmati waktu bersama, saling berkirim pesan mesra, dan menuntut perhatian satu sama lain. Namun, ketika salah satu pihak meminta kepastian atau komitmen pernikahan, pihak yang lain menghindar dan berkata, “Jalani saja dulu, saya belum siap terikat.” Mereka ingin menikmati keuntungan dari sebuah hubungan (kehangatan, ditemani, diperhatikan), tetapi menolak tanggung jawab dan kesetiaan yang lahir dari komitmen.
Sering kali, hubungan kita dengan Tuhan seperti HTS. Kita mau berkat-Nya, kita mau perlindungan-Nya, kita mau mukjizat-Nya saat kita sakit atau kesulitan uang. Tetapi saat Tuhan meminta waktu kita untuk melayani, meminta kita melepaskan karakter buruk, atau menuntut kesetiaan kita, kita berkata, “Tuhan, jalani saja dulu, jangan terlalu mengekang saya.”. Tuhan tidak mencari hubungan tanpa status. Dia mencari mempelai yang setia dan berkomitmen total.
3. Siap Membayar Harga Mengikut Yesus.
Rakyat Israel diam karena berkomitmen itu butuh pengorbanan. Mengikut TUHAN berarti siap bertentangan dengan arus zaman yang dipimpin Ahab dan Izebel. Namun, komitmen total mendatangkan kuasa. Ketika Elia berkomitmen, api Tuhan turun dan membakar habis korban persembahan.
Komitmen sejati selalu melibatkan pengorbanan (waktu, tenaga, ego). Namun ingat, di mana ada komitmen total kepada Tuhan, di situ kuasa dan mukjizat-Nya dinyatakan.
KESIMPULAN :
Di dalam kita mengikuti dan melayani Tuhan itu Merdeka dari uncommitment adalah pilihan sadar setiap hari. Mengikut Yesus tidak bisa dilakukan dengan setengah hati atau dengan cara “timpang”. Jangan lagi menjadi jemaat yang diam tanpa jawaban ketika Tuhan memanggil hidupmu.
Hari ini, mari lepaskan kepincangan rohani kita. Ambillah komitmen untuk melayani-Nya, mengasihi-Nya, dan menaati-Nya secara penuh. Sebab ketika kita berkomitmen total kepada Allah, kita akan melihat “api” kehadiran-Nya mengubahkan hidup, keluarga, dan masa depan kita, dengan cara :
1. Berhenti Berdiri di Dua Perahu (Mengambil Keputusan Tegas).
2. Menghancurkan “Mezbah-Mezbah” Palsu.
3. Siap Membayar Harga Mengikut Yesus.